Big Budi

#bussiness #jandatraveller #theraphist

  • Home
  • Thrifted
  • Social
  • Contact Us

Standar

Pada zaman dahulu, Sebelimbingan adalah kota yang makmur. Banyak rumah dan gedung-gedung megah. Warga hidup berkecukupan. Tak ada kemiskinan. Kemakmuran itu bukan karena pertanian, tapi dari pertambangan.
Konon, empat prajurit Pangeran Diponegoro yang kalah dalam perang melawan Belanda melarikan diri lewat jalur laut. Berlayar dari pulau ke pulau, mereka tiba di pulau kecil yang dari kejauhan tampak selalu diselimuti kabut. Pulau Laut.
Dari pantai, mereka naik ke darat dan merahasiakan asal-usulnya. Kepada penduduk setempat, mereka mengaku sebagai petani yang merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Keadaan masih berbahaya bagi mereka. Kaki tangan Belanda ada di mana-mana. Mereka tak mau ambil risiko: ditangkap, dikembalikan ke Pulau Jawa, dibuang atau dipenjara.
Penduduk pantai menyarankan agar mereka bertani di Desa Sebelimbingan. Di desa kecil itu hanya ada beberapa pondok yang dihuni beberapa keluarga. Masih berupa hutan, hanya sebagian kecil yang dijadikan lahan pertanian dan perkebunan.
Untuk tempat berteduh, mereka membangun pondok. Selama enam bulan pertama, dengan bekal uang yang dibawa, mereka membeli lahan, alat-alat pertanian dan bahan makanan, menanam sayuran dan umbi-umbian.
Pada suatu hari, saat mengolah tanah, cangkul Sudarmo membentur benda keras. Dengan penasaran dan hati-hati, ia menggali benda itu. Setelah lapisan tanah dan batu-batuan di atasnya diangkat, tampak benda hitam legam yang tadi mengenai cangkulnya.
Sudarmo memungut benda hitam itu dan melihatnya dengan saksama. “Muradi, Sukarmo, Sastro…! Kemari! Lihat ini!” serunya kepada tiga temannya yang tengah membersihkan semak belukar, membakar ranting dan daun-daun kering.
Khawatir terjadi sesuatu pada Sudarmo, ketiganya bergegas menghampiri.
“Apa itu?” Sastro bingung melihat sekepal benda hitam di tangan Sudarmo.
“Batu bara…,” jawab Sukarmo. Diambilnya benda itu dari tangan Sudarmo, membolak-baliknya.
Dahulu, ayah Sukarmo bekerja sebagai mandor kereta pengangkut tebu di sebuah pabrik gula di Jawa. Lokomotif kereta itu digerakkan tenaga batu bara. Waktu kecil, ia pernah diajak ayahnya naik kereta itu dan melihat beberapa kuli memasukkan batu hitam itu ke tungku pembakarannya.
“Kita akan kaya raya!” seru Sudarmo gembira. “Kita harus mencari pemodal untuk menambangnya, hasilnya kita jual ke kapal uap dan pabrik gula!”
Sejak penemuan itu, Desa Sebelimbingan menjadi ramai. Orang-orang dari berbagai penjuru berdatangan. Hanya dalam hitungan bulan, dua pengusaha keturunan Tionghoa berkongsi membiayai penambangan batu bara itu, menyediakan alat-alat tambang yang dibutuhkan.
Untuk memperluas tambang, lahan dan hutan dibeli dari penduduk. Sebagai penemu, mereka berempat mendapat bagian yang sama. Mendapat rejeki yang tak disangka-sangka itu, mereka bersyukur. Sebagai muslim, mereka terpanggil untuk membangun tempat ibadah. Mushola pun didirikan.
Setelah keadaan membaik, Sudarmo, Sukarmo dan Sastro menjemput anak-istri mereka di Tanah Jawa. Mereka kembali dengan membawa keluarga dan kerabat dekat yang akan bekerja sebagai kuli. Hanya Muradi yang masih sendiri.
Dengan kapal uap, para kuli beserta keluarganya masing-masing didatangkan langsung dari Tanah Jawa. Mereka dipekerjakan membangun pabrik pengolahan batu bara. Sebagai pelengkap sarana dan prasarana, jalan dan dermaga pun dibangun. Karena setiap keluarga membutuhkan tempat tinggal, kompleks permukiman didirikan.
Ketika tambang batu bara itu mulai berproduksi, suatu hari serombongan serdadu Belanda datang. Dengan bersenjata lengkap, mereka menemui Tuan A Cai dan Tuan A Seng.
Entah apa yang dibicarakan, tapi Sudarmo, Sukarmo, Sastro dan Muradi waswas melihat serdadu Belanda yang tampak siap siaga di pintu kantor. Mereka waswas, kalau-kalau rahasia mereka telah terungkap dan mereka akan ditangkap.
Sepulangnya rombongan serdadu Belanda itu, Tuan A Chai dan Tuan A Seng mengajak Sudarmo, Sukarmo, Sastro dan Muradi bertukar pikiran.
Keempatnya merasa lega setelah Tuan A Chai, sambil tersenyum, berkata, “Tuan Robert Suurhof mengajak kita berkongsi, memperbesar pertambangan ini. Mereka setuju dengan syarat yang kita ajukan dan akan menjamin keamanan…”
“Dan kita tetap mendapat bagian seperti yang sudah kita terima, ditambah bonus lainnya,” tambah Tuan A Seng dengan gembira. “Mereka menanamkan modal. Sebagian lahan akan dijadikan boerderij[1]). Pekerjaan kita akan menjadi lebih ringan. Orang-orang Belanda akan menangani semuanya, dari penambangan hingga pemasaran. Kita jadi mandornya…”
Beberapa pekan kemudian, mesin-mesin pertambangan yang lebih modern didatangkan. Gedung, kantor, rumah sakit dan rumah-rumah beton dibangun, untuk tempat tinggal orang-orang Belanda yang akan mengawasi langsung proses produksi, sejak penambangan, uji kendali mutu dan pengapalan antarpulau.
Beberapa tahun kemudian, Sebelimbingan menjadi kota yang makmur. Barang-barang mewah dan bahan keperluan sehari-hari didatangkan langsung dari Tanah Jawa, Andalas dan Selebes, melalui kapal uap yang rutin singgah dalam perdagangan antarpulau.
Belanda juga membangun sarana hiburan, gedung dansa dan tempat-tempat perjudian. Itu memang siasat yang licik dan cerdik, agar uang yang mengalir dari kuli tambang tetap masuk ke saku mereka dan dapat digunakan untuk membiayai daerah jajahannya di Hindia Belanda.
Masalah datang bersamaan dengan kemakmuran.
Pada suatu malam, jeritan perempuan dari gedung kediaman pimpinan pertambangan, Tuan Robert Suurhof, membuat para serdadu di gardu jaga berlarian.
Cahaya senter berseliweran, diiringi salak anjing dan suara tembakan. Para serdadu mengejar sesosok bayangan yang dengan cepat menghilang ke dalam hutan.
Dalam sekejap, penduduk Sebelimbingan terjaga dari tidurnya. Sebagian warga mendatangi kediaman Tuan Robert Suurhof. Dengan hanya berpiyama, Belanda totok itu marah-marah dan mengumpat dalam bahasa nenek moyangnya.
Pagi harinya seluruh penduduk Sebelimbingan tahu, malam itu Mevrouw Annelies, istri Tuan Robert Suurhof, kemalingan. Seluruh perhiasan yang tersimpan di lemari kamarnya digondol maling.
Itu adalah pencurian ketujuh dalam tiga bulan terakhir, selain perkelahian akibat minuman keras yang kian sering terjadi di antara sesama kuli tambang. Pelacuran pun kian marak, karena jumlah perempuan lebih sedikit daripada laki-laki.
“Kita harus mengatasi masalah ini. Akhlak warga sudah rusak sekali!” kata Sastro kepada tiga rekannya. “Kita sudah mulai tua. Keadaan ini tak baik bagi anak-cucu kita. Kalau dibiarkan, Sebelimbingan akan dilaknat Tuhan. Mushola kini selalu sepi. Tidak ada lagi yang sembahyang dan mengaji… ”
“Ya, tapi bagaimana caranya? Kita tak punya kuasa. Semua ditentukan Tuan Robert,” sahut Sudarmo. “Aku pernah membicarakan ini dengan Tuan A Chai. Dia sudah menyampaikannya. Tapi, Tuan Robert tidak peduli.”
“Kita harus bicara langsung!” tukas Sukarmo. “Tentu saja dia tak peduli soal akhlak warga. Baginya, yang penting kuli dan tambang menghasilkan uang. Tapi, jiwa prajurit kita tak bisa membenarkannya! Kau setuju, Muradi?”
Dengan tubuh limbung akibat terlalu banyak menenggak alkohol, Muradi menyahut, “Ah, aku sudah cukup senang begini. Terserah kalian saja…”
Tiga bulan kemudian, bersama Tuan A Chai dan Tuan A Seng, mereka menemui Tuan Robert Suurhof di kantornya. Pemimpin tambang dan boerderij itu baru kembali dari perjalanan ke Tanah Jawa, Andalas dan Selebes.
“Bagus sekali kowe orang datang!” seru Tuan Robert Suurhof sambil menyodorkan botol jenewer, yang langsung disambut Muradi, Tuan A Chai dan Tuan A Seng. “Ik tak usah panggil kowe orang lagi untuk omong soal ini.”
“Ada kabar apa, Tuan?” tanya Tuan A Seng.
Jawaban Tuan Robert Suurhof membuat mereka terkejut. “Gubernur Jenderal Starkenborgh Stachouwer di Batavia bilang, batu bara di sini tinggal sedikit. Mutunya sudah tak bagus en tambang ini harus ditutup. Kalau diteruskan, gubernemen bilang rugi. Tidak seimbang antara bea yang keluar, dengan hasilnya. Tambang baru telah ditemukan. Di Ombilin, Andalas…”
“Tapi, Tuan…,” Sastro memberanikan diri menyela.
“Inlander seperti kowe tak usah membantah! Gubernemen tahu apa yang harus dikerjakan. Tahun depan, tambang en boerderij ini akan brenti. Kalau mau, kowe orang boleh teruskan. Atau, kowe bisa jadi mandor di Ombilin, sebagai kuli kontrak biasa. Keadaan mulai tidak aman. Nippon akan serang Hindia Belanda… ”
Seperti dikatakan Tuan Robert Suurhof, setahun kemudian peralatan tambang dibongkar dan dikapalkan ke Andalas. Orang-orang Belanda dan kuli-kuli kontrak, yang menerima tawaran Tuan Robert Suurhof, menumpang di kapal yang sama. Perpisahan antara mereka yang pergi dan yang tetap tinggal, amat mengharukan.
Meskipun dengan jumlah kuli dan hasil tambang yang kian sedikit, penambangan batu bara tetap berlangsung. Beberapa tahun kemudian, setelah Perang Dunia II berakhir dan kepulauan Nusantara menjadi Republik Indonesia, sebuah peristiwa penting terjadi di Sebelimbingan.
Malam itu, ketika kuli-kuli sedang berkumpul di tempat hiburan dan arena perjudian, tiba-tiba terdengar pekikan, disusul suara teriakan dan rentetan tembakan dari atas gunung.
Entah datang dari mana, puluhan lelaki bersenjata api tiba-tiba telah menguasai Sebelimbingan. Mereka membakar dan mengobrak-abrik tempat hiburan dan perjudian. Gerombolan! Dalam remang cahaya obor, penduduk dikumpulkan, dipaksa berbaris dan berjongkok di lapangan.
“Kami lasykar Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas… Kami menjalankan perintah junjungan kami, Ibnu Hajar, membasmi tempat-tempat maksiat di Bumi Lambung Mangkurat. Sebelimbingan dalam kekuasaan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia! Tak ada lagi pertambangan dan kemaksiatan…!” teriak salah seorang di antara mereka sambil mengacungkan senjata.
Ketika ada penduduk yang terlambat mematuhi perintah berkumpul, anggota gerombolan itu tanpa belas kasihan melayangkan popor senapan. Anak-anak dan perempuan menangis dan menjerit ketakutan.
Diiringi ancaman, teriakan dan tembakan, mereka membakar pertambangan, kantor, rumah sakit, gedung dansa, tempat-tempat perjudian dan permukiman. Nyala api membesar menerangi langit malam, diiringi tangisan perempuan dan anak-anak. Seiring dengan padamnya api di pagi hari, gerombolan itu menghilang di belantara Pegunungan Meratus.
Tanpa aksi bumi hangus gerombolan gerilyawan itu pun Sebelimbingan sudah seperti lampu kehabisan minyak. Cahaya kemakmuran telah padam. Sehabis perang, keadaan ekonomi seluruh negara di dunia dalam keadaan sulit. Batu bara tidak dibutuhkan lagi. Mesin diesel yang menjalankan pabrik, kereta api, kapal dan mobil, sudah menggunakan solar. Kapal uap yang memakai batu bara tak ada lagi.
Dengan berlalunya waktu, Sebelimbingan seakan kembali ke titik nol. Kembali seperti sebelumnya, sebelum ditemukannya batu bara. Namun, beberapa bangunan yang tersisa dan banyaknya jumlah warga keturunan Jawa di sana menjadi tanda, bahwa di masa lalu ia adalah daerah yang kaya dan sejahtera.

Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/hilangnya-kota-sebelimbingan/

Standar

Pada zaman dahulu, di Desa Sigam hidup sepasang suami-istri. Mereka hidup dari bercocok tanam dan tinggal di sebuah pondok di kaki gunung. Meskipun hidup sederhana, mereka bahagia.
Mereka memiliki dua putra, Ambang dan Anding. Sehabis membantu orangtua di ladang, kakak-beradik itu suka bermain-main di dalam hutan. Memanjat pohon dan memetik buah-buahan yang dapat dimakan. Kalau letih, mereka mandi, berendam dan berenang di lubuk. Airnya jernih sekali, karena mengalir langsung dari gunung.
Pada suatu hari, mereka lupa waktu dan bermain jauh sekali ke dalam hutan Gunung Sebatung. Anding mengajak Ambang melacak burung yang lolos dari perangkap yang mereka pasang hari sebelumnya.
“Sudahlah, tak usah dikejar. Kita pulang saja. Hari sudah senja. Nanti Ayah- Ibu cemas…,” kata Ambang kepada adiknya.
“Kita cari lagi! Tadi aku melihatnya lari ke sini!” Anding menunjuk semak belukar di balik sebatang pohon besar. Dikuaknya semak belukar berduri itu. Karena tergesa-gesa, belukar berduri itu menggores keningnya. Darah pun menetes.
“Cepatlah! Kalau tidak ada, kita pulang saja. Aku sudah lelah, haus, lapar!” seru Ambang. Dengan kesal, ia duduk bersandar di batang pohon besar itu.
“Horeee, dapat! Ini dia, burungnya!” Anding tertawa gembira, keluar dari semak-semak dan mengacungkan hasil buruannya. “Lumayan buat lauk makan!”
“Hei, keningmu berdarah! Sini, kubersihkan dulu lukanya…”
“Eh, tunggu dulu! Kakak lapar?” Usai mengikat kaki burung, Anding mengamati pohon besar di samping mereka. “Kakak tunggu saja di sini, aku akan memetik buah kuranji…” Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan tangkas ia memanjat.
Setelah menjatuhkan dua biji buah kuranji, Anding segera turun. Mereka mengupas buah itu dan dengan lahap memakannya. Karena dialah yang memetik, Anding merasa berhak memakan buah yang lebih besar, yang berwarna merah. Ambang memakan yang kecil, yang putih. Walaupun kecil, tapi buah kuranji terkecil di zaman dahulu ukurannya rata-rata sebesar buah kelapa.
Ketika tengah asyik makan, bulu tengkuk mereka tiba-tiba berdiri karena perubahan suasana di sekitarnya. Hutan mendadak sepi. Mencekam. Kicauan burung dan suara binatang hutan lainnya tak ada lagi. Sunyi sekali. Yang terdengar hanya suara napas mereka.
Saat memakan buah kuranji itu, aneh, perasaan mereka tiba-tiba berubah. Ambang yang memakan kuranji putih, sekujur tubuhnya terasa dingin, lebih dingin daripada es. Sebaliknya, Anding menggelepar-gelepar kepanasan. Sekujur tubuhnya merah menyala, panas membara. Tak sanggup menahan rasa dingin dan panas di tubuh masing-masing, keduanya pingsan.
Dalam keadaan tak sadar, mereka mendengar suara:
“Hai, anak-anak… Kalian telah melanggar amanat orangtua. Kalian akan mendapat hukuman. Mulai saat ini, kalian tak dapat bersama lagi selamanya. Sebab, kalau Anding marah, tubuhnya akan panas membara. Panas yang dapat membakar lingkungan sekitarnya. Hanya Ambang yang dapat meredamnya, sebab tubuhnya sedingin es. Namun, bila itu terjadi, kalian akan tewas…”
Ketika siuman, dua kakak-beradik itu bergegas pulang dengan ketakutan.
Di pondok, Ambang menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtuanya. Ayahnya terkesima mendengarkan, Ibu langsung menangis sesenggukan.
“Aku sudah melarang kalian bermain di hutan Gunung Sebatung, apalagi memakan buah itu. Tapi, kalian telah melanggarnya….” Ayah menyesalkan. Matanya berkaca-kaca. “Mungkin ini sudah takdir kalian. Aku tak bisa berbuat apa-apa.”
“Sekarang, kita harus bagaimana?” tanya Ibu. “Ayah, jangan pisahkan anak kita!”
“Ini keputusan sulit, tapi terpaksa harus diambil. Ambang, kau tetap tinggal di sini, bersama kami. Anding, engkau terpaksa harus pergi, Nak. Kalau tidak, kalian berdua akan celaka…”
“Dia pergi ke mana? Dia masih kecil!” Ibu menangis keras dan memeluk tubuh Anding erat-erat, tak rela berpisah dengan anak yang dilahirkannya.
“Biarlah, Bu. Ini memang salahku. Akulah yang memetik buah itu. Esok pagi, aku akan pergi,” sahut Anding.
Beberapa tahun kemudian, Desa Sigam maju dengan pesat. Penduduk dari daerah lain banyak yang pindah ke desa itu, sebab tanahnya subur. Selain berladang dan berkebun, penduduk mencari penghasilan dengan berburu, berdagang kulit binatang, mencari rotan, damar, madu dan hasil hutan lainnya.
Pada suatu hari, seorang pemuda asing tiba di desa itu. Kepada pemilik penginapan, ia mengaku berdagang kulit binatang. Pemilik penginapan memberinya kamar yang menghadap ke sebuah rumah besar, rumah orang terpandang di desa itu.
Suatu pagi, dari beranda kamar penginapannya, pemuda itu melihat seorang perempuan cantik berambut panjang sedang membersihkan taman di halaman rumah besar itu. Setelah selesai menyapu, ia berdiri di tepi kolam, tersenyum memandangi bunga-bunga teratai yang sedang mekar. Pemuda itu takjub melihat perempuan itu. Terpesona oleh kecantikannya.
Tapi, perempuan itu tak pernah menoleh, seakan tidak tahu ada orang yang dengan diam-diam memerhatikannya. Tak acuh, ia meneruskan pekerjaannya hingga selesai, lalu masuk rumah. Hal itu berlangsung setiap pagi.
Setelah tiga hari, pemuda itu tak tahan lagi.
“Gadis cantik, siapa namamu? Aku ingin mengenalmu…”
Perempuan itu terperanjat.
Ia sedang tersenyum senang memandang bunga-bunga teratai yang mekar di kolam ketika sekonyong-konyong ada orang asing datang, menyeruak dari rimbun dedaunan. Wajahnya cukup tampan, tapi ada sesuatu yang aneh. Rambutnya tipis, sorot matanya merah menyala, seakan menyimpan bara.
“Ayolah,” sambung pemuda itu lagi lebih berani, sambil berjalan mengitari kolam, menghampiri. “Aku orang-orang baik-baik. Aku tidak bermaksud jahat, apalagi mempermainkanmu. Kalau kau mau, aku akan langsung melamarmu.”
Tanpa menjawab sepatah kata pun, perempuan itu bergegas pergi. Pemuda itu berlari mengejarnya. Tapi, pintu rumah langsung ditutup, tepat di depan matanya. Giginya gemeletuk. Darahnya langsung mendidih. Ia tersinggung dan marah sekali.
Keesokan harinya, pemuda itu datang lagi ke tepi kolam. Tapi, begitu melihatnya, perempuan cantik itu langsung pergi. Merasa terhina, pemuda itu nekat. Saat perempuan itu bergegas ke rumah, ia langsung menangkap tangannya. Saat itu, seorang pelayan lewat dan melaporkan kejadian itu kepada majikannya di dalam rumah.
Ketika perempuan itu menjerit dan meronta-ronta, tiba-tiba sebuah dorongan menjatuhkan tubuh pemuda itu ke tepi kolam.
“Hei, lepaskan tangan istriku! Mau apa kamu?!”
Perempuan itu langsung berlindung di balik punggung seorang pemuda yang baru datang. Di sudut taman, beberapa pelayan memerhatikan.
“Siapa kamu?! Beraninya kamu mencampuri urusanku?!” Pemuda itu berdiri dengan marah. Tubuhnya bergetar. Matanya membara. Merah menyala.
“Hei, akulah yang berhak bertanya. Ini rumah dan taman kami. Kata pembantuku, sudah beberapa hari ini kamu mengganggu istriku. Siapa kamu?”
“Kau tak pantas jadi suaminya! Aku mampu membelikannya taman dan istana yang lebih baik dan lebih besar daripada ini. Kalau kau tak mau menyerahkannya padaku, mari berkelahi sebagai lelaki!” sahut pemuda itu sambil memasang kuda-kuda. Tubuhnya tampak merah dan panas sekali, melebihi lahar gunung berapi.
“Hei, tunggu dulu! Rasanya, aku mengenalmu… Kamu Anding, adikku?”
“Omong kosong! Aku bukan orang sini!”
“Ya, kamu adikku! Ini aku. Kakakmu, Ambang! Tidak salah lagi, kamu adikku yang pergi dulu! Aku ingat itu, ada bekas luka di keningmu!”
“Persetan dengan bualanmu! Jangan coba menggangguku!” Sambil berteriak, pemuda itu melancarkan pukulan jarak jauh ke tubuh Ambang.
Karena tidak siap dengan serangan mendadak itu, Ambang terjengkang roboh. Istrinya menjerit ketakutan. Para pelayan lari berhamburan.
Di siang bolong itu, tiba-tiba petir menyambar. Langit mendadak mendung. Awan hitam menggantung. Gelegar guntur dan petir sambung-menyambung, lalu hujan deras turun. Terkena siraman air hujan, tubuh pemuda asing itu berasap.
“Kamu harus menyerahkannya padaku!” Dengan ganas dan beringas, pemuda itu menendangi tubuh Ambang yang lemah lunglai, terluka dan tak berdaya.
“Jangan! Jangan sakiti dia, tolonglah…” Perempuan itu menangis dan menjerit-jerit, berusaha melindungi wajah suaminya dari tendangan dan pukulan. “Apa pun permintaanmu, akan kuturuti. Tapi, tolong jangan sakiti dia…”
“Aku akan membunuhnya! Kalau masih hidup, dia akan menimbulkan masalah! Pergilah!”
Tepat ketika pemuda asing itu kembali akan melancarkan pukulan, perempuan itu merangkul dan mendorongnya sekuat tenaga. Keduanya tercebur ke dalam kolam.
Bagaikan besi panas yang dicelupkan ke air, tubuh pemuda asing itu tiba-tiba mendesis dan mengeluarkan asap tebal. Ia berkelojotan di dalam air. Menjerit-jerit kesakitan. Air kolam pun langsung mendidih, panas sekali! Sepanas air yang dimasak di kuali.
Air di kolam mendidih itu dengan cepat meluap dan membanjiri desa.
Melihat adik dan istrinya tenggelam di kolam mendidih, Ambang terjun ke dalamnya, berusaha menolong mereka. Tapi, ia hanya mampu menyelamatkan istrinya. Diseretnya tubuh istrinya, mendorongnya ke atas kolam dan memintanya segera lari ke atas bukit. Setelah istrinya pergi, ia berusaha naik ke pinggir kolam. Namun, ia sudah kehabisan tenaga.
Akibat luka parah yang dideritanya, Ambang tak mampu lagi bergerak. Dengan rasa sesal mendalam, dirangkulnya tubuh Anding. Perlahan, tubuh keduanya mengambang dan tenggelam ke dasar kolam.
Ajaib! Dengan berlalunya waktu, air di kolam itu berkurang panasnya, menjadi hangat-hangat kuku.
Seakan menangisi kejadian itu, hujan deras turun tiga hari tiga malam, disertai angin kencang dan banjir bandang. Tanah di lereng-lereng bukit longsor, pohon-pohon tumbang. Sebagian rumah penduduk hancur dan hanyut terseret arus banjir.
Konon, yang tersisa dari kolam itu kemudian hanya sebuah sumur. Masyarakat menyebutnya Sumur Manggurak (mendidih). Di hari libur, banyak orang yang datang untuk berendam dan mandi di situ. Airnya dianggap berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.


Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/asal-mula-sumur-manggurak-di-desa-sigam/

Standar

Sudah beberapa hari Buntar cemas dan gelisah. Hatinya gundah. Tanah huma warisan orangtuanya yang terhampar di lereng bukit mulai ditumbuhi semak belukar, tapi ia enggan membersihkannya.
Setiap pagi, ia berangkat ke ladang. Tapi, ia lebih sering duduk mencangkung, tercenung di pintu pondoknya. Matanya memandang hampa. Tak ada semangat untuk bekerja. Seolah apa pun yang dikerjakannya, akan sia-sia. Lengkingan monyet-monyet yang bergelantungan, berkelahi dan berkejar-kejaran di pepohonan, tidak menarik perhatiannya.
Beberapa hari lagi kekasihnya akan dikorbankan dalam upacara adat: dipotong lehernya, dipersembahkan kepada penunggu Goa Temuluang, Datu Naga Partala. Itu adalah keputusan musyawarah yang dihadiri seluruh tetua adat dan masyarakat Dusun Bangkalaan Dayak.
Setiap tahun, seorang perawan akan dibawa ke Goa Temuluang, goa keramat yang menyimpan cahaya dewa. Ketua adat akan memotong leher korban dengan mandau. Setelah putus, tubuh dan kepala itu dilemparkan ke dalam goa. Dan cahaya dewa terus akan menyala.
Konon, cahaya itu berasal dari mata dewa yang dijaga Datu Naga Partala. Cahaya itu tanda persembahan telah diterima, dan selama setahun masyarakat dusun akan terhindar dari segala marabahaya.
“Aku ikhlas dipilih sebagai korban, tapi bagaimana dengan kakanda?” tanya gadis itu dengan suara pilu. Wajahnya sendu.
Seusai musyawarah adat itu, malam harinya Buntar menyelinap ke bilik Mantir, kekasihnya. Tangga depan dan belakang rumah panggung yang dihuni ketua adat dan seluruh warga Dusun Bangkalaan Dayak itu dijaga beberapa pemuda.
Dengan mengendap-endap, Buntar masuk ke kolong rumah panggung.
Di bawah kolong yang gelap itu tersimpan padi dan alat-alat pertanian, juga kandang ternak. Sambil membunyikan suara burung malam yang telah disepakati sebagai isyarat, Buntar menunggu di bawah kolong, dekat kandang babi. Mantir membuka lantai bambu di biliknya, dan Buntar segera naik ke atas.
Dalam remang cahaya pelita, mereka berbisik-bisik.
“Aku tak rela kau dikorbankan,” kata Buntar. “Aku akan mencari jalan. Aku akan membebaskanmu.”
“Ini sudah takdirku. Sudah adat kita turun temurun, sejak nenek moyang kita. Kita tak bisa menolaknya. Kalau tidak dilaksanakan, kita akan mendapat kutukan!”
“Ssst…! Tenanglah. Percayalah padaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Seandainya gagal juga, lebih baik kita mati bersama….” Dalam keremangan, Buntar menatap Mantir, menanamkan kepercayaan pada diri kekasihnya itu. Itu adalah tatapan mata yang sama, seperti saat pertama kali mereka bertemu, di malam pesta muda-mudi, sehabis musim panen lalu.
Seekor monyet yang jatuh ke tanah dengan tubuh berdarah, membuyarkan lamunan Buntar. Perkelahian di antara kawanan monyet itu telah menelan korban. Tampaknya, yang kalah adalah seekor induk. Kepala dan lengannya berdarah, tapi ia tetap mendekap bayinya di dada. Dengan tertatih, ia berusaha berdiri, berupaya memanjat batang pohon lagi. Tapi, ia limbung dan jatuh.
Monyet itu menyeringai, menjerit dan mencakar-cakar ketika Buntar hendak menolongnya. Karena lukanya cukup parah, akhirnya ia menyerah dan membiarkan Buntar menangkapnya.
Saat itulah Buntar mendapat gagasan.
Sambil membersihkan luka di tubuh monyet itu dengan tumbuhan obat, ia terus berpikir. Sepulang dari rantau, ia melihat banyak hal tetap tidak berubah dari dusun kelahirannya.
Letaknya yang terpencil di pedalaman dan sukar dicapai, membuatnya selalu tertinggal. Dusun Bangkalaan Dayak tidak banyak berubah. Segalanya masih sama seperti saat ditinggalkannya dahulu, sepuluh tahun lalu.
Saat berusia dua belas tahun, pamannya yang tinggal di negeri seberang mengajaknya pergi. Dengan berat hati, kedua orangtuanya mengizinkan.
Musim panen lalu, ia kembali setelah kedua orangtuanya dikabarkan diserang penyakit aneh yang mewabah di dusun itu. Sebelum itu, adiknya telah lebih dahulu meninggal. Sebulan setelah ia datang, kedua orangtuanya pun berpulang.
Dari pengetahuan yang didapatnya di rantau, ia tahu penyakit itu disebabkan gigitan nyamuk. Itulah yang dikatakannya kepada warga. Tapi, ketua adat dan warga menyangkalnya. Mereka mengatakan, itu akibat kutukan, karena masyarakat lalai mempersembahkan korban.
Buntar tersenyum. Ia punya rencana. Ia tahu, mustahil mengubah adat istiadat yang dianut masyarakat dalam waktu singkat. Ia harus menyusun siasat.
Setelah melepaskan monyet yang terluka itu, Buntar naik ke pondok mengambil sumpit, mandau dan keranjang perbekalan. Semangat baru terpancar dari senyum di wajahnya. Ia menuruni anak tangga pondok dengan langkah pasti, menapaki lereng bukit dengan gesit.
Tengah hari ia tiba di goa yang dikeramatkan itu.
Di muara goa itu mengalir sungai yang panjangnya sekitar lima kilometer, dengan sebuah pulau kecil di atasnya. Goa itu memiliki dua pintu masuk. Di atasnya, batu-batu stalaktit menjulur, seperti jeruji, berwarna-warni.
Ketika kecil, Buntar bersama beberapa kawannya pernah mengintip upacara persembahan korban itu. Upacara itu terlarang bagi anak-anak, tapi mereka nekat. Dikelilingi para tetua adat yang duduk merapal mantra, ketua adat menari-nari. Seorang perawan meringkuk dengan tangan dan kaki terikat.
Setelah kerasukan roh leluhur, dengan sampan yang dikayuh beberapa pemuda, ketua adat berdiri di mulut goa, meracau dalam bahasa dewa-dewa. Di sampan lain, tetua adat menggotong tubuh perawan yang akan dikorbankan.
Ketua adat mengacungkan mandau ke angkasa. Detik berikutnya, kilatan mandau melayang di udara, dan kepala korban sudah terpisah dari badannya. Saat detik itu berlangsung, Buntar memalingkan wajahnya.
Dengan rasa penasaran, Buntar menaiki sampan kecil yang tertambat di tepi sungai dan mendayungnya ke mulut goa. Dinding goa itu licin sekali. Lebarnya sekitar lima belas meter, dengan tinggi sepuluh meter. Dindingnya percampuran antara batu ampar, batu granit dan batu kapur berwarna merah tembaga, kuning dan putih.
Buntar memberanikan diri masuk lebih dalam. Ia terperanjat saat ribuan kelelawar beterbangan ke arahnya, menuju mulut goa. Mungkin terkejut dengan kehadirannya.
Beberapa meter di dalam goa, ia terpana. Seberkas cahaya menyilaukan datang dari atas goa. Dalam kegelapan, cahaya itu terang sekali, menyorot ke dinding goa dan memantul laksana cermin. Di kejauhan, cahayanya merah menyala, bagai mata seekor naga raksasa!
Siang hari, sebelum upacara, Mantir menangis.
Air mata membasahi pipinya. Hatinya kian sedih, sebab sudah beberapa hari Buntar tak tampak. Setelah pertemuan mereka yang terakhir, Buntar menghilang.
Di kamar, tetua adat perempuan membedaki wajah Mantir. Menghiasinya dan mengenakan pakaian adat, seakan ia pengantin yang akan dipersandingkan. Di ruangan tengah rumah panggung itu, masyarakat dan tetua adat berkumpul, selamatan tolak bala. Mereka memohon kepada dewa-dewa agar upacara berjalan tanpa rintangan.
Setelah semuanya siap, ketua adat memimpin warga berangkat ke tempat upacara. Melalui jalan setapak di hutan dan menyusuri pinggir sungai, iring-iringan itu tiba di depan Goa Temuluang. Tubuh Mantir yang lemah lunglai diturunkan dari usungan.
Ketika beberapa pemuda tengah menyiapkan sampan untuk menyeberang, tiba-tiba terdengar suara:
“Hai, manusia… Aku ingin persembahan korban untukku diganti….”
Orang-orang terkejut dan menoleh ke asal suara, di mulut goa. Suara itu berat dan seram sekali. Menggetarkan hati, membuat bulu kuduk berdiri.
“Siapa itu?” ketua adat memberanikan diri bertanya sambil menghunus tombaknya. Waspada. Diikuti para pemuda.
“Aku Datu Naga Partala. Penunggu goa. Penerima persembahan dari kalian. Aku bosan darah perawan! Aku ingin darah hewan…!”
“Darah hewan?” tanya pemuka adat, menghalangi ketua adat dan beberapa pemuda yang dengan tombak di tangan bermaksud menaiki sampan menuju goa.
“Ya! Sajikan darah ayam, kambing dan kerbau, sebagai ganti darah perawan. Sajikan seperti selama ini. Masak dagingnya untuk pesta warga! Bagi yang tidak mematuhinya, akan kukutuk dan kuturunkan bala…!”
Bersamaan dengan itu, ribuan ekor kelelawar tiba-tiba beterbangan, berhamburan keluar dari sarangnya di dalam goa. Suaranya memekakkan telinga. Mereka memenuhi angkasa. Langit menjadi gelap gulita. Orang-orang panik dan ketakutan, tunggang langgang berlarian.
Setelah semua orang pergi, Buntar keluar dari dalam goa sambil tersenyum. Tangannya memainkan ketapel. Benda kecil itulah yang tadi membangunkan ribuan kelelawar dari tidurnya. Dari liang lain di atas goa, ia ketapel sarang mereka. Hewan-hewan malam itu pun terkejut dan terbang berhamburan, seakan kesetanan.
Ia yakin, usahanya mengubah kepercayaan dan adat istiadat masyarakat di dusunnya lambat laun akan berhasil. Sambil melangkah pulang, ia membayangkan senyum manis Mantir.

Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/naga-partala-di-goa-temuluang/

Standar

Putri Papu sedang merana, sedih dan berduka. Putri tunggal raja di Kerajaan Bajau yang berwajah hitam manis itu sedang kesal dan tidak mau makan. Pelayan dan dayang-dayang kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Bagaimana hatinya tidak sedih? Baginda raja, ayahandanya, marah besar saat mengetahui hubungannya dengan Maruni. Padahal mereka sudah mengikat janji setia, sehidup semati.
“Nelayan miskin sepertimu tidak pantas mendampingi putriku! Aku sudah menjodohkannya dengan saudagar kaya dari negeri seberang!”
Kata-kata ayahandanya itulah yang membuat hati Putri Papu sedih dan pilu, bagai disayat sembilu.
Dikawal para punggawa dan prajuritnya, dengan bertolak pinggang Raja Bajau mengumpat dan menuding-nuding Maruni yang berlutut di hadapannya. Putri Papu mendengar semua itu dari balik pintu.
Putri Papu mengenal Maruni di perkampungan nelayan.
Sebagai putri raja, ia tidak menyukai aturan istana yang ketat. Di kala senggang, di saat jenuh menenun, merancang pakaian atau menata perabotan, didampingi seorang pelayan, ia sering meninggalkan istana dan bergaul dengan rakyat jelata. Karena sifatnya itu, rakyat Kerajaan Bajau mencintainya.
Pada suatu hari, di kampung nelayan yang sepi, ia bertemu Maruni. Pemuda itu tengah memperbaiki sampan di pantai. Matahari menyorot dadanya yang bidang dan wajahnya yang tampan.
Karena tengah asyik bekerja menambal buritan sampannya yang bocor, ia tidak menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya.
“Kenapa sampanmu bocor? Apakah menabrak karang?” tanya Putri Papu. Itu pertanyaan yang biasa diajukannya untuk mengetahui masalah yang dihadapi warga.
“Tidak. Ditabrak sampan prajurit kerajaan, gara-gara aku tak mau membayar pajak ikan yang jumlahnya keterlaluan!” Maruni menyahut tanpa menoleh.
“Mengapa tidak dilaporkan langsung kepada raja? Mungkin itu ulah prajurit rakus saja. Setahuku, Raja tidak pernah mengeluarkan peraturan yang memberatkan rakyatnya.”
Mendengar jawaban lantang itu, Maruni menoleh.
Ia menatap tajam mata perempuan di depannya. Perempuan itu balas menatapnya. Mereka bertatapan sekian lama. “Engkau siapa?” tanya Maruni dengan suara tercekat di tenggorokan, terpukau oleh kecantikan perempuan itu.
“Kau tidak tahu? Ini junjunganmu, Putri Papu. Putri Raja!” sahut pelayan. Ia heran, mengapa pemuda itu tidak menunjukkan sikap hormat. Kalau tahu sedang berhadapan dengan putri bangsawan kerajaan, biasanya orang-orang akan berlutut.
Jantung Putri Papu berdebar-debar saat beradu pandang dengan Maruni. Ia tersipu-sipu. Salah tingkah. Ia suka dengan sikap pemuda yang memperlakukannya seperti perempuan biasa itu. Ia bosan dengan pemuda-pemuda bangsawan yang menghormatinya secara berlebihan dan penuh kepura-puraan.
Sejak itu, ditemani pelayannya, Putri Papu sering bertemu Maruni di desanya. Kadangkala mereka bertemu di pesisir pantai, di antara karang dan bebatuan. Mereka bermain, mencari kepiting, kerang dan lokan, merangkainya jadi perhiasan mainan. Berenang dan menyelam bersama. Memadu kasih. Bersumpah setia.
Atas laporan aparatnya, suatu hari Raja Bajau mengetahui hubungan mereka. Raja murka. Ia memerintahkan punggawa membawa Maruni ke istana. Itulah yang kemudian terjadi. Raja Bajau marah besar kepada Maruni.
“Sekarang juga, kau harus meninggalkan wilayah kerajaan! Dilarang tinggal di sini! Sebelum matahari terbit esok pagi, kau sudah harus pergi! Bila esok masih di sini, kau akan dihukum mati!”
Mendengar titah ayahandanya itu, Putri Papu menangis dan berlari ke pelukan ibundanya. Di kamar, permaisuri mendekap erat tubuh putri kandungnya itu. Tapi, ia tak dapat berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa dilakukannya.
Permaisuri Raja Bajau itu tak berdaya melawan kehendak suaminya. Ia sendiri bukan penduduk asli kerajaan. Ia adalah putri bangsawan dari kerajaan di seberang lautan. Dahulu, ia pun dikawinkan melalui perjodohan.
Namun, ia tidak merasa khawatir. Ia mengira, putri kesayangannya itu juga akan menjalani nasib yang sama dengannya, dikawinkan melalui perjodohan.
“Sudahlah, anakku. Hari sudah senja. Mandilah dulu, kemudian makan. Setelah itu, istirahatlah…” Permaisuri memapah tubuh putrinya yang lunglai, menuntunnya masuk kamar.
Tengah malam, tiba-tiba permaisuri terjaga dari tidurnya oleh suara gemuruh yang membahana dan mengguncangkan istana. Badai sedang mengamuk! Gemuruh angin, badai dan topan menggetarkan lantai, dinding dan atap istana. Terdengar suara hiruk-pikuk, teriakan para pengawal, jeritan panik, tangis perempuan dan anak-anak.
Raja sudah tak berada di kamar.
Ia sudah di luar, mengumpulkan punggawa, hulubalang dan para prajurit. Memberi perintah untuk mengatasi segala kemungkinan yang terjadi.
Hujan, badai dan topan mengamuk dengan dahsyat. Menerjang istana di pesisir pantai itu dan permukiman penduduk. Alam tampaknya sedang murka. Lautan bergelora.
Gelombang-gelombang sebesar gunung datang, bergulung, menyapu pantai, menghanyutkan perahu, sampan dan jaring nelayan. Rumah-rumah nelayan di tepian pantai dilulur ombak dan dihisap gelombang ke tengah lautan. Seakan lidah seekor naga raksasa yang menelan mangsanya.
Permaisuri teringat Putri Papu.
Bergegas, dibukanya pintu kamar. Tetapi, Putri Papu tidak ada! Bahkan, kasur, bantal dan selimutnya masih utuh, seolah tak pernah disentuh.
“Anakku, Papu! Papuuu…!” Permaisuri berteriak-teriak. Panik. Menangis. Tergopoh-gopoh, diperiksanya seluruh ruangan istana. Dari satu kamar, ke kamar lainnya. Dua prajurit pengawal mengikuti ke manapun ia pergi. Mereka tak mau disalahkan apabila terjadi sesuatu pada permaisuri.
Keesokan harinya, ketika matahari terbit, penduduk kerajaan gempar. Putri Papu hilang! Kepada para punggawa dan hulubalang, Raja Bajau memerintahkan agar seluruh prajurit melakukan pencarian secara besar-besaran. Bagi yang menemukan, akan diberikan imbalan.
Ruangan istana yang hancur dibongkar, siapa tahu Putri Papu tewas tertimpa reruntuhan. Pesisir pantai dan batu karang juga diperiksa, kalau-kalau mayatnya dihanyutkan air ke sana. Namun, semuanya sia-sia. Tidak ada petunjuk yang jelas. Putri Papu lenyap tanpa bekas.
Karena terlalu sedih memikirkan Putri Papu, permaisuri jatuh sakit. Seluruh tabib istana tak mampu mengobati. Tiga hari setelah sakit, ia mangkat. Sebelum mangkat, ia terus mengigau, sendu dan pilu, “Alla tulu… Anakku, Papu… Papuuu….”
Setelah tujuh hari tujuh malam melakukan pencarian tanpa hasil, Raja Bajau mengumpulkan seluruh rakyatnya di halaman reruntuhan istana. Bangunan istana yang terbuat dari kayu itu sudah porak-poranda. Dengan mata sembab, lelah dan sedih, ia bertitah:
“Saat matahari terbit esok pagi, seluruh rakyat Kerajaan Bajau harus pergi ke laut. Carilah Putri Papu! Tidak boleh ada yang kembali ke daratan sebelum bertemu! Bawalah istri, anak dan cucu. Berangkatlah dengan perahu! Bawa perabotanmu! Jangan kembali tanpa izinku!”
Mendengar titah itu, serempak penduduk menyiapkan sampan, perahu, dan mengumpulkan anggota keluarga masing-masing. Satu perahu memuat sejumlah keluarga, terdiri dari orang tua, beberapa pasang suami-istri, bayi dan anak-anak.
Karena titah Raja Bajau tidak bisa dianggap sembarangan, keberangkatan tiap keluarga dipersiapkan dengan matang. Barang keperluan sehari-hari dibawa serta. Bahan-bahan sandang pangan pun dibawa secukupnya, termasuk peralatan memasak.
Karena tidak tahu sampai kapan pencarian itu akan berakhir, peralatan musik alahai juga dibawa. Untuk menghibur diri di laut di kala sunyi, siapa tahu mereka takkan pernah tinggal di darat lagi. Mereka harus menjalankan titah itu. Harus menemukan Putri Papu. Mereka tak mau seumur hidup menanggung malu.
Dengan dipimpin langsung oleh raja, keesokan harinya armada perahu dan sampan rakyat Kerajaan Bajau itu berlayar. Di tengah lautan, sampan dan perahu-perahu itu berpencar ke seluruh penjuru.
Bila malam tiba, mereka beristirahat di pesisir pantai pulau terdekat, tapi tidak tidur di darat. Makan-tidur tetap dilakukan di sampan dan perahu. Siang hari, mereka menukarkan ikan hasil tangkapan dengan garam dan kebutuhan hidup sehari-hari, dengan penduduk yang tinggal di darat.
Waktu terus berlalu dan mereka terus berlayar mencari Putri Papu. Di laut, di saat tertentu, dengan nada pilu, terkadang mereka berseru, “Papuuu… Papuuu… Papuuu…!”
Selama dalam pelayaran, mereka beranak-pinak. Tiap kali seorang perempuan melahirkan, orangtuanya menyampaikan amanat Raja Bajau: orang-orang Bajau tidak boleh tinggal di darat sebelum menemukan Putri Papu.
Sampai kapan pun, mereka tetap harus mencarinya. Siapa tahu Putri Papu dihanyutkan ombak lautan. Mungkin ia sedang menunggu untuk ditemukan. Tidak ada yang pernah berpikir sampai kapan pencarian itu akan berakhir. Mereka sudah menganggapnya takdir.
Orang-orang Bajau dan keturunannya telah menjadikan sampan, perahu dan lautan sebagai bagian dari kehidupan. Lautan dan samudera sebagai rumahnya. Sebagian dari mereka kini berada di pesisir Desa Rampa (Kecamatan Pulau Laut Utara), Rampa Manunggal (Kecamatan Sampanahan), Rampa Cengal (Kecamatan Pamukan Selatan), Desa Rampa, Sungai Bali (Kecamatan Pulau Sebuku), Rampa Banyu Berantai (Kecamatan Pulau Laut Timur) dan di Muara Pasir (Kabupaten Tanah Grogot, Kalimantan Timur).

Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/mencari-putri-papu-dari-kerajaan-bajau/

Standar

Setelah bekerja keras semalam suntuk, Datu Mabrur melepas lelah sejenak di lepas pantai Kerajaan Pagatan. Matahari pagi telah terbit di ufuk timur, menyinari lautan dan pasir pantai tempat Datu Mabrur duduk mengaso.
Dalam satu malam, ia telah menyelesaikan tugasnya, mengantarkan empat puluh satu batang pohon kayu ulin ke Kerajaan Banjar.
Beberapa hari lalu, Patih Balit dari Kerajaan Banjar datang menemuinya. Utusan yang dikawal sejumlah prajurit itu menyampaikan amanat sultan mereka. Sultan Suriansyah ingin membeli batang pohon kayu ulin.
Kata Patih Balit, Sultan Suriansyah ingin agar batang-batang pohon kayu ulin itu dikirimkan ke Kerajaan Banjar dalam tempo tiga hari.
Batang-batang kayu besi itu akan digunakan sebagai tiang guru untuk membangun masjid, tempat ibadah bagi rakyat Kerajaan Banjar yang baru memeluk agama Islam, di Muara Kuin.
Karena batang pohon kayu ulin yang terbaik di dunia berasal dari Pulau Halimun, Sultan Suriansyah sanggup membelinya, berapa pun harganya.
Patih Balit memperlihatkan pundi-pundi berisi intan, berlian, jamrut, yakut, nilam biduri dan emas murni yang mereka bawa, sebagai alat pembayarannya.
Melihat itu, Datu Mabrur cuma tersenyum. Ia meminta utusan itu menyimpan kembali harta bendanya dan menyanggupi permintaan Sultan Suriansyah. Tanpa syarat apapun. Itu dilakukannya semata-mata sebagai sahabat.
Datu Mabrur meminta utusan itu segera pulang dan menunggu. Ia berjanji akan mengantarkan sendiri batang-batang pohon kayu ulin itu.
Setelah utusan itu pulang dan matahari terbenam di ufuk barat, seorang diri Datu Mabrur mencabut batang-batang pohon ulin yang sudah tua di hutan. Setelah itu, ia langsung menggotong dan mengantarkannya ke Kerajaan Banjar.
Setiap kali, ia menggotong tiga batang. Batang pohon yang besarnya rata-rata sepelukan orang dewasa dan panjang sembilan meter itu, dua diletakkannya di bahu, satu di kepala. Dengan kesaktiannya, Datu Mabrur melesat secepat kilat ke Kerajaan Banjar. Hal itu dikerjakannya berulang kali, hingga empat puluh satu batang pohon kayu ulin itu selesai diantarkannya sebelum terbit fajar.
Namun, setiap kali pulang dari Kerajaan Banjar dan kembali ke Pulau Halimun, selalu ada pemandangan yang membuatnya tidak enak. Itulah yang kini membebani pikirannya.
Sambil berdiri di pasir pantai Kerajaan Pagatan, ia memandangi Pulau Halimun. Di kejauhan, ia melihat ada sesuatu yang kurang. Di sebelah utara, Gunung Sebatung tampak berdiri kokoh. Tetapi, di sebelah selatan tidak ada gunung yang menjulang. Pemandangan yang tidak seimbang.
Datu Mabrur teringat Datu Pujung.
Datu Mabrur ingin merundingkan masalah itu dengan Datu Pujung, yang tengah bersamadi di goa pertapaannya di Pulau Halimun.
Dengan kesaktiannya, mereka melakukan pembicaraan jarak jauh.
Duduk bersila di atas ombak laut di tepian pantai, Datu Mabrur bersamadi. Dalam samadinya, ia menyampaikan pemandangan yang dilihatnya dari tempat itu dan meminta pendapat Datu Pujung.
“Aku pun sudah lama melihatnya!” sahut Datu Pujung dalam samadinya. “Di Pulau Halimun ini tidak ada gunung yang tinggi! Padahal itu penting sekali! Sebagai rambu bagi nelayan dan petunjuk dalam pelayaran!”
“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” Datu Mabrur sebenarnya ingin mengusulkan sesuatu, tapi ragu-ragu. Ia tahu, tidak ada yang dapat memerintah Datu Pujung. Tidak ada yang berani menguji kesaktiannya. Orang yang kulitnya sehitam jelaga dan buruk rupa itu sulit ditebak. Kalau bicara, suaranya sekeras halilintar, meledak-ledak. Datu Pujung mudah tersinggung.
“Kau punya usul, Mabrur?!”
“Ya…” Datu Mabrur gembira, tak menduga Datu Pujung meminta sarannya.
“Apa usulmu, heh?!”
“Bagaimana kalau kita mencari satu gunung lagi, dan meletakkannya di sana, di sebelah selatan?”
“Di mana mencarinya?! Siapa yang mengerjakannya?! Apakah kita kerjakan bersama-sama?!”
“Siapa lagi yang sanggup mengerjakannya selain Datu Pujung? Aku akan menunggu di pantai Pulau Halimun. Bagi datu, mudah saja mencari gunung berapi yang sudah mati di Jawadwipa, lalu mengangkutnya. Bagaimana?”
“Tunggu aku di Pulau Halimun! Sebelum bintang pertama terbit malam ini, aku akan kembali!”
“Baiklah,” sahut Datu Mabrur.
Tanpa bicara lagi, Datu Pujung mengambil galah saktinya. Galah itu panjang sekali. Ujungnya menggapai awan. Dengan galah itu, Datu Pujung melompat dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dari sungai ke laut, dari laut ke samudera, dari satu pulau ke pulau lainnya.
Sebelum matahari terbenam, Datu Mabrur sudah kembali berada di Pulau Halimun. Sekilas, dalam cahaya jingga matahari senja, ia melihat bayangan Datu Pujung berkelebat di kejauhan. Ayunan ujung galahnya menjolok angkasa. Menghamburkan awan, menjadi hujan. Janggut dan jubahnya berkibaran.
Di pantai Pulau Halimun, sebelum bintang malam terbit, Datu Mabrur mendengar desir angin dan suara ombak yang aneh. Seakan topan dan badai akan menjelma prahara. Tetapi, tidak. Ternyata, suara itu berasal dari riak dan kecipak ombak yang timbul dari langkah Datu Pujung yang datang memanggul gunung!
Di atas riak ombak lautan, Datu Pujung berjalan sambil memanggul sebuah gunung yang tinggi dan besar sekali. Gunung itu diikatkan di ujung galahnya. Ia letih sekali, tapi tak mau ditampakkannya. Saat berhadapan dengan Datu Mabrur, ia berusaha keras tersenyum.
Karena wajahnya jelek sekali, yang tampak bukannya senyum yang sedap dipandang, tapi seringai yang aneh dan menyeramkan.
“Engkau benar-benar hebat!” sambut Datu Mabrur. “Engkau telah menepati janji. Engkau kembali, sebelum bintang terbit malam ini. Istirahatlah dahulu, datu.”
Datu Pujung tidak mempedulikan sambutan dan pujian Datu Mabrur.
Diempaskannya galah saktinya dengan serampangan. Empasan itu membuat gunung di ujung galahnya jatuh berdebur di tengah lautan.
Gelombang pasang yang terjadi akibat jatuhnya gunung itu menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Halimun. Air laut yang membuncah ke udara dan jatuh berderai membuat Pulau Halimun sesaat bagai dilanda hujan badai.
“Aku masih kuat, tidak perlu istirahat! Kita segera bekerja!” kata Datu Pujung sambil menggerak-gerakkan otot leher dan bahunya yang pegal-pegal.
“Bagaimana caranya, datu?”
“Dengan galahku, kita panggul gunung ini berdua! Aku di ujung sini, engkau di ujung sana! Gunungnya kita ikat di tengah!”
“Baiklah,” sahut Datu Mabrur.
Keduanya berjalan di atas air laut dan mengikatkan gunung itu di tengah galah. Setelah terikat, mereka memanggulnya. Datu Pujung di depan, Datu Mabrur di belakang. Dalam temaram cahaya bintang, tubuh keduanya membesar, seakan raksasa, hampir sebesar gunung yang mereka panggul.
Ketika keduanya tengah berada di sebelah barat Pulau Halimun, tiba-tiba tali pengikat gunung itu putus. Gunung itu jatuh berdebum. Melesak ke bumi. Tanah, debu, pasir, batu, ranting, daun-daun dan pepohonan beterbangan ke udara. Sesaat, langit menjadi gelap gulita.
Datu Pujung langsung melesat menemui Datu Mabrur. “Aduh, kenapa bisa begini?!” katanya dengan wajah cemberut. Kesal dan marah.
“Tenanglah, datu. Kita istirahat dulu….” Datu Mabrur berusaha menyabarkan.
“Engkau tunggu saja di sini! Aku akan mencari tali! Aku akan minta bantuan siluman-siluman di Pulau Sembilan, Pulau Kerayaan dan Kerajaan Pagatan! Kita harus menyelesaikannya malam ini juga! Tidak bisa ditunda!”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Datu Pujung melesat dengan galahnya.
Datu Mabrur tercenung. Bintang-bintang terbit dan bertaburan di langit, ditemani bulan sabit. Ia mengamati gunung itu dari segala sudut. Dari sisi timur, barat, utara dan selatan. Didakinya gunung itu dan dengan cermat mengukur ketinggiannya.
Saat itulah Datu Mabrur melihat: puncak gunung itu sudah tidak ada lagi. Rompal. Robek. Bagian yang rompal itu persis di bekas tempat tali pengikat. Rupanya, ketika putus, talinya langsung memapas puncak gunung. Kalau dilihat dari kejauhan, bentuknya seperti jambangan bunga.
“Datu Mabrur! Gunung ini tidak usah dipindahkan lagi! Kita biarkan saja di sini!” Tiba-tiba, entah lewat mana, Datu Pujung sudah ada lagi di samping Datu Mabrur.
“Mengapa? Bukankah kita akan meletakkannya di sebelah selatan?”
“Aku sudah memandangnya dari segala sudut, dari luar Pulau Halimun! Dari pantai Kerajaan Pagatan, Pulau Kerayaan dan Pulau Sembilan! Letak gunung ini sudah tepat, meskipun berada di sebelah barat!”
“Kalau begitu, baiklah.”
“Jangan hanya ‘baiklah’, ‘baiklah’! Engkau setuju, tidak?! Jangan sampai terpaksa! Kalau memang tidak setuju, bilang saja!”
“Aku setuju sekali. Sekarang, izinkan aku yang memberi nama gunung ini.”
“Pilih yang sesuai dengan bentuknya! Apa namanya?!”
“Gunung Jambangan.”

Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/riwayat-gunung-jambangan/
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
  • MIMPI SI ANAK BAJAU
  • Aku basah oleh hujan
  • Suamiku..
  • Bayangan Kecilku
  • ....yang Tak Terjamah

Categories

  • Abstract 12
  • Cerita Rakyat 13
  • Cerpen 5
  • Hatiku Tertinggal di Madinah 10
  • Puisi 30
  • Suamiku 2
  • Tips 8
  • Travelling 17

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

My Posts

  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari  Bahasa Banjar Judul Buku          :LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA ...
  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari Bahasa Banjar Judul Buku             : LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARA...
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
    Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada ha...
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
                             Judul Cerita “ Hikayat ...
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
    CERITA RAKYAT KABUPATEN KOTABARU Standar HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK Cerita Rakyat Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan ...

BigBudi

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates