Big Budi

#bussiness #jandatraveller #theraphist

  • Home
  • Thrifted
  • Social
  • Contact Us

Standar

Raja Pakurindang di Kerajaan Pulau Halimun memiliki dua putra mahkota yang gagah perkasa dan tampan rupawan. Sang kakak bernama Sambu Batung, adiknya Sambu Ranjana.
Kakak-beradik itu memiliki sifat yang amat bertolak belakang, seperti bumi dengan langit. Sambu Batung lincah dan mudah bergaul, bersifat terbuka dan senang dengan hal-hal baru. Sambu Ranjana berperangai sebaliknya: pendiam, tertutup, tidak suka bergaul, tidak suka keramaian dan apa adanya.
Di bawah kepemimpinan Raja Pakurindang, rakyat Kerajaan Pulau Halimun hidup rukun, makmur, aman dan sentosa. Mereka suka bergotong royong dan selalu berbagi dalam kebersamaan. Kebutuhan sandang pangan mereka hasilkan sendiri. Karena tinggal di satu pulau, mereka saling mengenal. Tidak ada rahasia di antara mereka. Semuanya seperti satu keluarga.
Rakyat Kerajaan Pulau Halimun tidak pernah berhubungan dengan penduduk pulau lain, sebab tidak pernah ada penduduk dari pulau lain yang datang ke pulau itu. Dari luar, Kerajaan Pulau Halimun memang tidak tampak, sebab selalu diselimuti kabut. Nelayan dari pulau-pulau lain yang melintas hanya melihat halimun di tengah laut.
Pada suatu hari, Raja Pakurindang bertitah agar seluruh aparatnya berkumpul di istana, karena ia akan menyampaikan hal penting.
“Karena rakyat sudah hidup sejahtera dan aku kian tua, sudah saatnya aku meninggalkan istana. Aku akan bertapa,” sabda Raja Pakurindang.
“Paduka akan bertapa di mana?” Panglima Ranggas Kanibungan bertanya sambil bersembah sujud. Karena tubuhnya tinggi dan besar sekali, lantai istana bergetar oleh langkahnya. Senjatanya, kapak raksasa yang beratnya sama dengan seekor kerbau jantan, tersandang di bahunya.
“Di pulau ini juga. Di puncak gunung yang diselimuti mega.”
“Maaf ampun, paduka. Bagaimana kalau paduka tak ada? Siapa yang akan bertahta?” Sambu Luan, penasihat raja, bertanya sambil mengusap-usap kumisnya.
“Putraku Sambu Batung akan bertahta dan menjalankan pemerintahan. Tentu saja dengan bantuan kalian, panglima dan para punggawa. Tetapi, walaupun aku nanti tak lagi bermukim di sini, bukan berarti aku akan menghilang sama sekali. Dari puncak gunung, aku akan memantau semuanya. Sekali waktu, aku akan memberikan petunjuk dalam bentuk isyarat dan tanda-tanda.”
“Apa yang harus kami lakukan, ayahanda?” tanya Sambu Batung.
“Jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana. Rukunlah dengan Sambu Ranjana. Kalian harus memberi teladan, agar menjadi panutan. Bukankah sebelum mangkat dahulu, mendiang ibundamu sudah mengajarkan hal itu?”
Sambu Batung dan Sambu Ranjana mengangguk.
Tidak ada tawar-menawar lagi. Jamba Angan, wakil panglima, yang semula hendak bicara, mengurungkan niatnya. Ia sadar, kalau Raja Pakurindang telah meninggalkan balai persidangan dan masuk ke kamar istana, mempersiapkan keperluan terakhir sebelum bertapa, tak ada lagi yang dapat dilakukannya.
Padahal, masalah yang akan disampaikannya penting sekali.
Sebagai orang yang sudah berumur, matanya yang jeli tahu bahwa Putri Sewangi, anak kandungnya, amat mencintai Sambu Batung. Namun, Raja Pakurindang telah menjodohkan Sambu Ranjana dengan putrinya itu!
Ia juga mendengar kabar bahwa Sambu Batung menaruh hati pada Putri Perak, anak Panglima Ranggas Kanibungan. Celakanya, Putri Perak mencintai Sambu Ranjana! Lebih celaka lagi, Sambu Ranjana diam-diam menaruh hati pada Putri Sewangi!
Untuk mengurai benang kusut itu dan menghindarkan kemungkinan terjadinya aib di kalangan bangsawan istana, Jamba Angan pernah mengadakan pertemuan rahasia dengan Sambu Luan, untuk minta nasihat. Ia terdorong melakukan hal itu, sebab terkait dengan nasib putrinya sendiri, Putri Sewangi.
Kepada Sambu Luan, Jamba Angan mengatakan, bahwa ia sering mendengar kasak-kusuk: secara sembunyi-sembunyi Sambu Batung sering memaksa bertemu dengan Putri Perak, bahkan pernah menerobos masuk ke Taman Putri! Para pengawal tak ada yang berani menghalangi.
Pada pertemuan rahasia di tengah malam itu, Jamba Angan tidak mendapat nasihat apa pun dari Sambu Luan. Sambu Luan seakan dihadapkan pada persoalan yang tak dapat dipecahkan. Setelah mengusap-usap kumisnya yang beruban dan berpikir sekian lama, penasihat kerajaan itu mengangkat bahunya, tak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya, seluruh aparat Kerajaan Pulau Halimun melepas keberangkatan Raja Pakurindang. Tetapi, iring-iringan kereta kencana dan prajurit berkuda itu hanya sampai di kaki gunung. Setelah itu, tak ada lagi yang berani mendaki.
Konon, gunung itu angker sekali, dihuni berbagai binatang buas, raksasa, siluman dan makhluk-makhluk gaib. Hanya orang-orang sakti mandraguna yang berani mendaki hingga ke puncaknya.
Syahdan, setelah tiga hari tiga malam bertapa, pohon-pohon yang tumbuh dalam jarak tiga meter di sekitar Raja Pakurindang merunduk ke arahnya, seolah memberi hormat. Setelah tujuh hari tujuh malam, semak belukar dan pepohonan besar yang berjarak tujuh meter melakukan hal serupa.
Hal itu berlangsung terus menerus, sampai dengan pepohonan yang berjarak sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan meter! Semuanya merunduk, seakan bersembah sujud dan menyatakan takluk. Di kejauhan, semak belukar dan pepohonan itu berbentuk pegunungan yang diselimuti awan.
Seperti saat dipimpin Raja Pakurindang, di bawah kepemimpinan Sambu Batung pun rakyat Kerajaan Pulau Halimun hidup tenteram, damai, aman, makmur dan sentosa. Sebagai pendamping hidup, ia menyunting Putri Perak. Pesta perkawinan berlangsung dengan meriah dan dirayakan seluruh rakyat kerajaan.
Beberapa tahun kemudian, suatu hari terjadi peristiwa genting.
Dalam sidang di istana yang dihadiri seluruh aparat kerajaan, terjadi pertengkaran sengit antara Sambu Batung dan Sambu Ranjana. Mereka berbeda cara dalam mengatasi persoalan. Dari penjuru desa, aparat kerajaan mendapat laporan tentang terjadinya peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup warga.
Sidang berjalan tegang. Hanya beberapa orang yang berani bicara, yakni Panglima Ranggas Kanibungan dan Sambu Luan.
“Ananda berdua, pamanda harap sudahilah pertengkaran ini. Lebih baik kita mencari cara mengatasinya…,” usul Sambu Luan.
“Tidak, pamanda! Kanda Sambu Batung harus bertanggung jawab atas masalah ini!” Sambu Ranjana berteriak. Jamba Angan dan Sambu Lantar mengangguk, mengiyakan. “Di kerajaan ini tak ada yang mampu membuka rahasia mantra penyibak halimun, terkecuali dia orang berpengaruh. Jelas, dia ingin merusak tatanan dan kedamaian dengan memasukkan budaya luar!”
Melihat keadaan kian genting, peserta sidang mulai berdiri satu per satu, terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendukung Sambu Batung, lainnya memihak Sambu Ranjana.
“Dalam keadaan genting ini, kita jangan terpecah belah,” Panglima Ranggas Kanibungan berusaha menengahi. “Tuduhan ananda Sambu Ranjana itu tidak berdasar. Pamanda harap…”
“Cukup, pamanda!” bentak Sambu Ranjana. “Pamanda tentu saja tak mau menyalahkan menantu sendiri. Kalian telah bersekongkol! Kalian ingin menjual negeri kita kepada orang asing dengan membuka diri pada kerajaan lain!”
Mendengar sikap adiknya yang tidak sopan dan sudah keterlaluan, Sambu Batung tak mampu lagi menahan amarah. Apalagi, kata-kata kasar itu ditujukan kepada mertua, sekaligus guru, yang dihormatinya.
Jeritan istrinya, Putri Perak, tak dihiraukannya lagi. Dengan sekali lompat, Sambu Batung sudah berdiri di hadapan Sambu Ranjana. Ketika ia akan membuka mulut, semua orang dikejutkan oleh suara gemuruh, disusul guncangan keras. Mendadak, udara terasa panas menyengat. Seketika, suasana jadi kacau balau.
Setelah guncangan mereda, kecemasan membayang di wajah seluruh aparat kerajaan ketika melihat serombongan warga berdesakan memasuki balai sidang.
“Mohon ampun, paduka. Sudah sejak tadi kami ingin menyampaikan hal ini. Tapi kami tak bisa masuk, karena harus menyelamatkan diri…”
Dengan isak tangis, mereka melapor. Tanpa sebab musabab yang jelas, hewan ternak mereka mati mendadak. Tanaman, pepohonan, sawah, ladang dan kebun menjadi kering kerontang.
“Kami mohon perlindungan, paduka. Bencana telah melanda. Tanda-tanda dan isyarat sudah terlihat. Di gunung pertapaan Raja Pakurindang telah berkibar bendera merah!”
Sambu Batung dan seluruh aparat kerajaan terkejut. Mereka tertegun. Tenggelam dalam ketakutan. Mereka ingat amanat Raja Pakurindang: “Jika di puncak gunung berkibar bendera putih, itu pertanda datangnya kedamaian dan kemakmuran. Jika bendera kuning, pertanda kekeringan dan penyakit. Kalau benderanya berwarna merah, itu pertanda akan datangnya bencana dan malapetaka…”
Melihat Sambu Batung diam mematung, Punggawa Sembilan segera menghaturkan sembah. Mereka memohon agar junjungannya melakukan tindakan nyata untuk melindungi rakyat, memberikan bantuan dan pertolongan.
Namun, Sambu Batung tetap membisu.
Sebuah guncangan dahsyat dan hawa panas tiba-tiba datang lagi, lebih kuat dan lebih panas daripada tadi. Di antara suara gemuruh dan hawa panas yang menyengat, lantai, dinding dan pilar-pilar istana retak-retak dan roboh satu per satu.
Sambu Ranjana berteriak, “Sambu Batung, kau pengkhianat! Kau telah melanggar wasiat leluhur! Semua ini salahmu!”
“Paduka, tolong jangan bertengkar lagi! Mari bersatu mengatasi masalah ini!” Panglima Ranggas Kanibungan menengahi. Bersama Punggawa Sembilan, ia berpegangan tangan satu sama lain. Mereka berdiri di antara pilar-pilar istana yang retak. “Mari kita bulatkan tekad, satukan hati, untuk mengusir kekuatan jahat ini!”
Kata-kata Panglima Ranggas Kanibungan itu seolah perintah.
Sambu Batung dan Sambu Ranjana terpaksa mengalah. Keduanya menggabungkan diri dalam barisan. Namun, mereka tak mau bergandengan tangan. Alhasil, Sambu Batung di ujung barisan sebelah kiri, Sambu Ranjana di kanan. Panglima Ranggas Kanibungan di tengah.
Dipimpin Panglima Ranggas Kanibungan, sesaat mereka memejamkan mata. Menghimpun kekuatan batin, menyalurkannya melalui tangan masing-masing dan serempak memukulkannya sekuat tenaga sambil berteriak. Sasaran pukulan mereka adalah arus panas berapi yang berpusar di hadapan, berpusar seperti angin puting beliung. Apa pun yang dilintasinya akan roboh dan tergulung.
Tetapi, bukannya berhenti, arus panas berapi itu malahan berbalik dan memantulkan pukulan yang mereka lancarkan! Mereka terlempar, jauh sekali, terpencar-pencar dan jatuh dengan pakaian hangus dan tubuh lecet-lecet. Kapak besar Ranggas Kanibungan pun terpental. Jauh. Kelak, ia menjadi Pulau Kapak.
Setelah bertarung tujuh hari tujuh malam dengan mengerahkan seluruh kesaktian, mereka sadar tak mungkin mengalahkan kekuatan jahat itu. Saat itulah, ketika langit mendadak gelap dan hujan deras turun, di angkasa terdengar suara. Suara yang amat mereka kenal. Suara Raja Pakurindang!
“Wahai warga Pulau Halimun… Percuma kalian melawan. Ini sudah takdir. Tak ada yang harus disalahkan. Dan kalian, anakku, dengarkanlah titahku…”
“Hamba, ayahanda….” Sambu Batung dan Sambu Ranjana serempak menyahut, lemah dan gemetar.
“Sambu Batung, engkau dan Putri Perak tinggallah di utara pulau ini. Teruskan keinginanmu membuka diri dan membaur di alam nyata… Dan engkau, Sambu Ranjana, tinggallah di selatan. Lanjutkan niatmu menutup diri. Aku merestui jalan hidup yang kalian tempuh. Namun, ingat, meskipun hidup di alam berbeda, kalian harus tetap rukun. Harus tetap bantu membantu dan saling mengingatkan…”
“Pesan ayahanda akan kami junjung….” Sambu Batung dan Sambu Ranjana serempak menyahut.
Bersamaan dengan itu, gelegar guntur, kilat dan petir membelah angkasa.
Hujan turun deras sekali, menciptakan banjir. Dari puncak gunung, air menggelontor, bagai ditumpahkan. Melongsorkan tanah, bebatuan, hewan-hewan dan pepohonan.
Pohon-pohon besar tumbang disambar petir, tercerabut hingga akarnya, dihanyutkan air dan dengan cepat meluncur ke permukiman penduduk, melanda istana, menerjang apa pun yang menghalangi jalannya.
Banjir besar itu juga menghanyutkan Putri Sewangi.
Putri Sewangi menangis sedih berkepanjangan karena kasihnya yang tak sampai kepada Sambu Batung. Ia berserah diri kepada banjir yang menghanyutkannya di sebatang pohon. Arus air membawanya ke laut. Dalam gemuruh guntur, petir, angin, hujan dan badai, ia menangis tak henti-henti.
Dengan hati penuh sesal, dilemparkannya serudungnya yang basah oleh air mata. Serudung itu diterbangkan angin, jauh sekali. Kelak, ia menjadi Pulau Serudung. Dalam duka dan nestapa, ia bersumpah takkan bersuami dan akan mengasingkan diri.
Karena sumpahnya itu, Putri Sewangi menjelma pulau tersendiri, Pulau Sewangi. Dipisahkan oleh laut dan berada di sebelah barat Kerajaan Pulau Halimun, ia masih dapat memandang ayahandanya, Jamba Angan, yang menjadi Gunung Jambangan. Gunung Jambangan masih berdekatan dengan Sambu Ranjana, yang menjadi Gunung Saranjana. Gunung yang penuh misteri dan teka-teki. Sambu Batung menjadi Gunung Sebatung, berdampingan dengan Gunung Perak.
Banjir besar itu juga menghanyutkan Sambu Lantar. Setelah sekian lama hanyut, ia terdampar di tempat yang kemudian bernama Desa Lontar. Punggawa Sembilan, yaitu Marsiri, Mardapan, Margalap, Marbatuan, Marmalikan, Mardanawan dan Markalambahu hanyut paling jauh dan menjadi Pulau Sembilan. Seluruh kesaktian yang mereka miliki melebur menjadi satu, menjadi Pulau Sebuku.

Copas :https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2013/12/19/legenda-kerajaan-pulau-halimun/

Standar

Menurut sahibul hikayat, pada zaman dahulu ada seorang datu yang sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar.
Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya, kelak.
Di malam hari, ada kalanya tubuh Datu Mabrur seakan membeku. Cuaca dingin, angin, hujan, embun dan kabut menyelimuti tubuhnya. Siang hari, terik matahari membakar tubuhnya yang kurus kering dan hanya dibungkus sehelai kain. Ia tidak pernah makan, terkecuali meminum air hujan dan embun yang turun.
Di hari terakhir pertapaannya, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari permukaan laut dan terbang menyerangnya. Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu.
Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang lagi. Demikian berulang-ulang. Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur.
Pada serangannya yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur membuka matanya.
“Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu samadiku? Ikan apa kamu?”
“Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Samadimu membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu. Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk…,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam.
“Jadi, itu rakyatmu?” Datu Mabrur menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang.
“Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu.”
Datu Mabrur mengangguk.
Dipandanginya ikan-ikan yang berenang di sekeliling karang itu. Gigi, sirip dan sisik mereka berkilauan saat melompat di permukaan laut. Siang menjelang. Matahari mulai garang.
Ini hari terakhir pertapaannya, tapi belum ada tanda-tanda permohonannya akan terkabul. Pulau yang diimpikannya belum tampak. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya birunya laut, keluasan samudera dan cakrawala.
“Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi padamu, bila engkau menolongku…” Raja Ikan Todak mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup.
“Baiklah,” Datu Mabrur berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.”
“Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, bersama ikan paus dan lumba-lumba?”
“Tidak. Aku tak punya keinginan pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti….” Lalu, Datu Mabrur menceritakan maksud pertapaannya selama ini.
“Kami akan memenuhi permintaanmu!”
“Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
“Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi, impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!”
“Wah… Kamu bersumpah?”
“Ya! Aku takkan berdusta. Ini sumpah raja!”
Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan Todak akan memenuhi sumpahnya itu. “Baiklah. Tapi kita harus membuat perjanjian: sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring sejalan. Seia sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Setuju?”
“Setuju, Datu…,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek, lemah. Ia sangat membutuhkan air.
Mendengar jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum.
Dengan hati-hati, dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut.
Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja Ikan Todak itu mengering! Kulitnya licin kembali seperti semula, seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan ekornya dengan gembira.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Datu Mabrur mengangkat Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut. Ribuan ikan yang tadi mengepung karang, kini berenang mengerumuninya, melompat-lompat bersuka ria.
“Sa-ijaan!” seru Raja Ikan Todak sambil melompat di permukaan laut.
“Sa-ijaan!” sahut Datu Mabrur.
Setelah lompatan ketiga, Raja Ikan Todak, bersama ribuan ikan yang mengiringinya, menyelam ke dalam lautan.
Sebelum tengah malam, sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Gemuruh perlahan, tapi pasti.
Laut tenang, gelombang tak ada, hanya alunan ombak dan riak-riak kecil saja. Riak-riak itu kian memanjang ke segenap penjuru. Langit terang benderang oleh ribuan bintang dan cahaya purnama, hingga Datu Mabrur dapat dengan jelas menyaksikan peristiwa di depan matanya.
Gemuruh suara itu terdengar bersamaan dengan timbulnya sebuah daratan, dari dasar laut! Kian lama, permukaan daratan itu kian tampak. Naik dan terus naik! Lalu, seluruhnya timbul ke permukaan!
Di bawah permukaan air, ternyata jutaan ikan dari berbagai jenis mendorong dan memunculkan daratan baru itu dari dasar laut. Sambil mendorong, mereka serempak berteriak, “Sa-ijaan! Sa-ijaan! Sa-ijaaan…!”
Datu Mabrur tercengang di karang pertapaannya. Raja Ikan Todak telah memenuhi sumpahnya!
Bersamaan dengan terbitnya matahari pagi, daratan itu telah timbul sepenuhnya. Berupa sebuah pulau. Lengkap dengan ngarai, lembah, perbukitan dan pegunungan. Tanahnya tampak subur. Pulau kecil yang makmur.
Datu Mabrur senang dan gembira. Impiannya tentang pulau yang akan menjadi tempat tinggal bagi anak-cucu dan keturunannya, telah menjadi kenyataan. Permohonannya telah dikabulkan. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.
Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab, ia timbul dari dasar laut dan dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata sa-ijaan dan ikan todak dijadikan slogan dan lambang Pemerintah Kabupaten Kotabaru.

Copas : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/category/hikayat-sa-ijaan-dan-ikan-todak/


Standar

Saijaan Traveler
Sa-Ijaan Traveler. Sebuah nama yang diberikan untuk “anak” yang lahir ditanggal 7 April 2015. Sa-Ijaan Traveler dibuat untuk memberikan referensi wisata terbaik yang ada di tanah Bumi Sa-Ijaan. Buat yang masih belum mengetahui dimana letak Bumi Sa-Ijaan, Bumi Sa-Ijaan terletak di pulau kalimantan atau lebih tepatnya di tenggara provinsi Kalimantan Selatan, yang lebih di kenal dengan sebutan Kotabaru, Pulau Laut.
Saya pribadi lebih suka menyebutnya dengan Bumi Sa-Ijaan, karena untuk kotabaru tidak hanya ada di Kalimantan Selatan saja, banyak kotabaru-kotabaru lain diluar pulau Kalimantan, Bandung misalnya terus di Yogyakarta juga ada.
Perkembangan wisata di Tanah Sa-Ijaan meningkat pesat, pengunjungnya pun sudah beraneka ragam, ada yang dari pulau Kalimantan sampai dari luar Indonesia. Sekitar sepuluh tahun yang lalu wisata di Tanah Sa-Ijaan dapat di hitung jumlahnya. Seperti pantai gedambaan atau sering di sebut pantai sarang tiung yang selalu penuh kunjungan ketika hari libur nasional. Ada juga wisata air terjung tumpang dua yang berada di desa sebelimbingan, Dulu kita bisa main seluncuran dari atas batu yang dialiri air pegunungan, sekarang debit air di wisata tersebut sangat berkurang yang terlihat hanya bebatuan tanpa ada aliran air.
Maraknya penggunaan media sosial seperti instagram memang jadi promosi yang sangat bagus untuk memperkenalkan wilayah wisata baru, yang dengan mudah dijamah wisatawan maupun yang susah. Keberadaan instagram menjadi pemicu meningkatkan wisata baru dan juga rasa penasaran dari luar daerah untuk berpetualang menelurusi wisata yang ada di Tanah Sa-Ijaan.
Wisata sekarang tidak hanya berada di desa gedambaan juga di desa sebelimbingan. Desa sebelimbingan sendiri tidak hanya ada wisata air terjun, sekarang juga terdapat wisata hutan meranti yang sangat cocok untuk rekreasi keluarga menghabiskan waktu libur. Selain hutan meranti, bagi penyuka hiking di Tanah Sa-Ijaan menyuguhkan pemandangan indah dari atas gunung mamake, bisa juga jadi tempat camp bersama sahabat. Selain wisata pegunungan Bumi Sa-Ijaan juga memiliki keindahan pantai dan beraneka ragam karang maupun ikan, seperti nemo. Sangat cocok bagi anda yang menyukai menghabiskan waktu di pasir maupun menyelam kedasar laut.
Pulau samber gelap merupakan spot terbaik untuk menikmati keindahan bawah laut, selain itu bisa juga melakukan kegiatan snorkling di daerah tanjung kunyit yang juga memiliki perpaduan keindahan pasir putih dan laut biru.
Ada banyak lagi wisata-wisata terbaik yang dimiliki Tanah Sa-Ijaan, bagi yang penasaran silakan cek di instagramSAIJAANTRAVELER jangan lupa untuk difollow ya hehehe.

Sumber by : https://akhmadnovalmahrizal.wordpress.com/2016/03/07/awal-mula-sa-ijaan-traveler/comment-page-1/#comment-22

Explore Kalimantan Selatan 6D5N



Itinerary
Day 1

BANJARMASIN (L, D)
Setibanya di Bandara Syamsudin Noor, peserta akan dijemput guide. Peserta akan City Tour Banjarmasin. Peserta akan mengunjungi Rumah Bubungan Tinggi, Rumah Adat Banjar, Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah, Komplek Makam Kerajaan Banjar, dan Batik Sasirangan Khas Banjarmasin. Makan siang dan makan malam di restoran lokal. (Makan malam bisa juga dengan mengunjungi Gang Pengkor Kayu Tangi). Hotel Banjarmasin.

Day 2

BANJARBARU - MARTAPURA (B, L, D)
Pagi hari peserta akan dibawa ke Lokbaintan untuk melihat aktivitas pasar terapung. Aktivitas pasar terapung berlangsung di Lokbaintan dari pukul 07.00-10.00. Selanjutnya peserta akan dibawa menuju penambangan intan di Banjarbaru. Peserta dapat melihat aktivitas penambangan intan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat. Setelah melihat proses penambangan, peserta akan dibawa ke Martapura untuk mengunjungi Penggosokan Modern Batu Permata Red Borneo, Penggosokan Tradisional Batu Permata, dan Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat (CBS). Makan siang dan makan malam di restoran lokal. Hotel Banjarmasin.



Day 3
BANJARMASIN – KANDANGAN – LOKSADO (B, L, D)
Setelah sarapan, peserta akan menuju Kandangan, dan selanjutnya Loksado. Peserta akan diajak menikmati Air Terjun Haratai dan Sungai Amandit di Loksado (4 jam perjalanan). Peserta juga dapat menikmati Lanting, yaitu rakit bambu yang digunakan untuk arung jeram di sungai (Pagat). Makan siang dan makan malam di restoran lokal. Penginapan Loksado/Kandangan.
Day 4
LOKSADO-MERATUS (B, L, D)
Pagi hari selesai sarapan, peserta akan dibawa menuju wilayah Pegunungan Meratus. Peserta akan bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat adat Meratus. Pegunungan Meratus menyimpan banyak keanekaragaman hayati maupun tradisi. Peserta juga dapat diajak mengunjungi tempat pembudidayaan anggrek hutan meratus yang dikelola masyarakat. Jika memungkinkan, peserta dapat dibawa melihat Pohon Lebah Madu dimana masyarakat mendapatkan madu. Rumah penduduk Dayak Meratus.





Day 5
MERATUS – AMUNTAI (B, L, D)
Selesai sarapan pagi, peserta akan menuju Amuntai (perjalanan 3 jam). Terdapat khas di Amuntai, yaitu habitat kerbau rawa. Sehari di Amuntai, lalu kembali ke Banjarmasin. Hotel Banjarmasin.

Day 6
BANJARMASIN (B, L)
Selesai sarapan pagi, peserta memiliki program bebas. Hingga saatnya peserta diantar menuju Bandara Syamsudin Noor.

Note : Itinerary bersifat tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi di lapangan.

HARGA PAKET

Paket (untuk 5 pax)

Rp 4.950.000,-


Hotel Bintang 2+/Setaraf 


Include
Hotel + Penginapan + Rumah Adat
Perahu untuk menyusuri sungai
Makan sesuai program
Entrance fee
Guide

Exclude
Tiket Pesawat PP
Airport Tax
Tipping
Asuransi perjalanan
Makan di luar program
Pengeluaran pribadi (porter, bellboy, laundry, dan lain-lain)
Biaya tour tambahan di luar Itinerary
  
TERM AND CONDITIONS
  1. Itinerary sewaktu-waktu bisa berubah sesuai kondisi dilapangan.
  2. Anak 0-5 tahun = 50% (sharing Bed with adult)
  3. Anak 5-12 tahun = 75% (sharing Bed with adult)
  4. Penjemputan & Droping hari terakhir disesuaikan dengan transportasi dan jam kepulangan peserta.
  5. Pembayaran pertama paling lambat H-10 sebesar 50% dan pembayaran penuh maksimal H-3.
  6. Khusus untuk Bulan Juni (high season/Peak Season/Public Holiday/School Holiday) harga menyesuaikan kembali
  7. Pembatalan acara dari pihak pemesan, maka pembayaran tanda jadi (DP/CASH) dianggap hangus jika terjadi.
  8. Koordinasi mengenai teknis lapangan akan dibicarakan lebih lanjut.
  9. Nomor rekening untuk pembayaran Bank Mandiri Tri Budiyarni a.c. : 031-00-1013365-3
  10. Konfirmasi lebih lanjut dapat menghubungi Tri Budiyarni : 081258465500
  11. Harga termasuk: sesuai itinerary.
  12. Harga tidak termasuk: sesuai itinerary.

Meeting Point: Bandara Syamsudin Noor



=======================================
Suatu hari Ibrahim bin Adham Rahimahullah melewati pasar Bashrah, maka orang-orang datang mengerumuninya dan mereka bertanya, wahai Abu Ishak, kenapa kita sering berdoa tapi Allah tidak juga mengabulkan doa kami?
Maka dia menjawab, karena hati kalian telah mati disebabkan 10 perkara.
Mereka bertanya, apa itu, maka beliau menjawab :
1. Kalian mengenal Allah tapi tidak kalian tunaikan hak Allah.
2. Kalian mengaku mencintai Rasulullah tapi kalian tinggalkan sunnah-sunnahnya.
3. Kalian membaca Qur'an tapi tidak kalian amalkan isinya.
4. Kalian makan nikmat dari Allah tapi kalian tidak mensyukurinya.
5. Kalian bilang setan musuh kalian tapi tetap kalian mengikuti langkahnya.
6. Kalian bilang surga itu benar adanya tapi kalian tidak berusaha menuju ke sana.
7. Kalian bilang neraka itu benar adanya tapi kalian tidak berusaha menjauhinya.
8. Kalian bilang kematian itu pasti tapi kalian tidak mempersiapkan diri untuknya.
9. Kalian terbangun dari tidur sedang kalian sibuk dengan kesalahan orang lain dan lupa kesalahanmu sendiri.
10. Kalian mengubur saudara kalian yang meninggal tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.
Sumber :
- Jami' Bayanul Ilmi Wafadhlihi (2/12)
- Al Mushtathorrif (2/532)
- Ihya' Ulumud Din (3/38)

_
Beberapa hari ini kau menghilang.
Kabarmu seolah lenyap dan digenggam sunyi.
Kucoba mengintip catatan hariannmu
Tapi tak kutemukan sepotong cerita di sana.
Diam-diam kutatap layar handphone
Kucoba untuk melihat nomormu di sana
Berharap, masih ada. Dan ternyata ada.
Tapi, kok rasanya ada yang hilang ya?
Ah mungkin hanya perasaanku saja.
Dinda...
Kadang kuberpikir.
Mengapa pula aku harus merindukanmu.
Bukankah sejak dulu kita memang makhluk terpisah?
Rasanya terlalu tiba-tiba rindu mengepungku.
Maka perlahan kutuliskan sajak ini.
Biar kau tahu bahwa rindu ini telah melangit
Setelahnya kubercakap pada diri sendiri.
Hati berbisik " Tenanglah kita masih di langit yang sama
Bulan pun masih tetap yang kemarin,
Pun matahari masih tetap yang sama kan?
Tapi kok serasa kau berpisah jauh
Ber mil-mil hingga batas pandangan hilang
Perlahan aku mulai menepis rindu ini
Aku yakinkan hati bahwa kita hanya berpisah sementara.
Pun kalau kau rindu.
Begini...
Coba pandangilah bulan
Lalu pikirkan aku pun menatap bulan yang sama.
Di sana pandangan kita bersatu.
Dan jangan lupa kiaskan doa ke cahayanya
Hingga harapan-harapan kita bersatu di sudut sana.
Adinda...
Barangkali sajak ini teramat panjang.
Singkatnya aku hanya ingin berkisah tentang rindu
Perasaan yang begitu sederhana
Yang belakangan ini begitu menyiksa.
Kucoba mencari obatnya.
Sayang belum juga kutemukan
Sampai aku bersandar di sebuah batu besar
Di hadapan danau kecil yang teduh
Aku berujar pelan pada danau itu.
"Tiada obat rindu selain pertemuan."
Lantas aku pun bergegas ke kamar
Menutup jendela rapat-rapat.
Dan sebelum tidur aku berharap sangat.
Mimpi yang akan mempertemukan kita
Ya walau hanya semenit.
Bagiku pertemuan di mimpi kali ini cukup penting
Sebab dia akan menghapus rindu satu abad lamanya.
Aku pun menutup mata
Pelan-pelan hingga setitik bening menembus kelopak mata.
"Dinda rindu ini untukmu" bisikku pelan.
Karya Fiksi - Sajak RIndu - Bang Igo (Idrus Gorontalo) - Selasa, 4 agustus 2015

Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat



Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada hari kiamat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak ada seorangpun dari kamu kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya ‘Azza wa Jalla tanpa ada penterjemah antara ia dan Allah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Namun diantara hambaNya ada yang diajak bicara oleh Allah dengan keras dan penghinaan, akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan. Allah tidak melihat mereka dengan penglihatan kasih sayang, namun dengan kemurkaan. Tentu orang seperti ini akan mendapat adzab yang pedih. Na’udzu billah min dzalik.
Lalu siapakah mereka yang tidak diajak bicara oleh Allah? Dikutip dari cintasunnah.com, Ustadz Badrusalam, Lc mengatakan, ada sembilan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat dan disucikan, dan baginya adzab yang pedih, yaitu:
1. Orang yang memakai kain melebihi mata kaki (musbil).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang isbal dalam hadits yang banyak, namun sebagian orang ada yang mempunyai pendapat yang tidak tepat, yaitu bahwa larangan berbuat isbal itu bila disertai dengan kesombongan, berdasarkan hadits:
“Siapa yang menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Dan hadits Abu Bakar Ash Shiddiq:
“Dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu bagian kainnya melorot tetapi aku berusaha untuk menjaganya (agar tidak melebihi mata kaki).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau tidak melakukannya karena sombong.” (HR Al Bukhari).
Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits ini mengikat kemutlakan larangan isbal, artinya bahwa isbal itu dilarang bila disertai kesombongan, namun bila tidak disertai kesombongan maka hukumnya boleh.
Inilah fenomena kedangkalan dalam pemahaman. Karena bila kita perhatikan hadits Abu bakar di atas, tampak kepada kita bahwa Abu bakar tidak melakukan itu dengan sengaja, oleh karena itu Nabi menyatakan bahwa Abu bakar tidak melakukannya karena sombong. Ini menunjukkan bahwa orang yang melorotkannya dengan sengaja melebihi mata kakinya adalah orang yang sombong walaupun pelakunya mengklaim dirinya tidak sombong. Karena isbal itu sendiri adalah kesombongan sebagaimana dalam hadits:
“Jauhilah olehmu isbal (memakai kain melebihi mata kaki), karena isbal itu termasuk kesombongan”. (HR Abu dawud).[1]
Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata, “Isbal itu berkonsekwensi kepada menyeret kain, dan menyeret kain itu berkonsekwensi kepada kesombongan walaupun orang yang melakukannya tidak bermaksud sombong.” (Fathul Baari 10/275).
Imam Ibnul ‘Arobi Al maliki rahimahullah berkata, “Tidak boleh bagi seorangpun untuk memakai kain melebihi mata kakinya dan berkata, “Aku tidak sombong.” Karena larangan isbal telah mencakupnya secara lafadz dan illatnya.” (‘Aridlotul Ahwadzi 7/238).


Jadi klaim bahwa larangan isbal itu diikat dengan kesombongan adalah pendapat yang ganjil dan aneh, karena isbal itu sendiri sudah termasuk kesombongan walaupun pelakunya tidak bermaksud sombong sebagaimana yang katakan oleh Al Hafidz ibnu hajar tadi. Terlebih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingkari beberapa shahabat yang kainnya melebihi mata kaki tanpa bertanya, “Apakah kamu melakukannya karena sombong?” diantaranya adalah hadits ibnu Umar ia berkata:
“Aku melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara kainku melorot. Beliau bersabda, “Wahai Abdullah, angkat kainmu.” Akupun mengangkatnya. Beliau bersabda, “Tambah!” Akupun menambah (mengangkat)nya. Semenjak itu aku selalu menjaganya.” (HR Muslim).
Dari ‘Amru bin Syariid dari ayahnya berkata:
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengikuti seseorang dari Tsaqif sehingga beliau berjalan dengan cepat lalu beliau memegang bajunya dan bersabda, “Angkat kainmu! bertakwalah kamu kepada Allah” Lalu orang itu membuka kedua lututnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ahnaf (yang berkaki bengkok berbentu X), dan kedua lututku beradu.” Beliau bersabda, “Setiap ciptaan Allah Azza wa Jalla itu indah.” (HR Ahmad dan lainnya).[2]
Lihatlah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya terlebih dahulu apakah kamu sombong atau tidak? Ternyata tidak. Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan isbal dengan sengaja adalah orang yang sombong walaupun pelakunya merasa tidak sombong.
2. Orang yang suka mengungkit pemberiannya.
Mengungkit pemberian adalah perkara yang dapat membatalkan amal, Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan mengungkit dan menyakiti, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya ingin dilihat manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (Al baqarah: 264).
3. Orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.
“Dua orang yang sedang berjual beli itu punya khiyar (pilihan) selama keduanya belum berpisah, jika keduanya jujur dan menjelaskan maka jual belinya akan diberkahi. Dan jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta maka akan dicabut keberkahannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
4. Orang tua yang berzina.
5. Raja yang suka berdusta.
6. Orang miskin yang sombong.
Tiga orang ini amat memalukan, karena tidak ada sesuatu yang mendorong mereka melakukan hal tersebut. Ini menunjukkan kepada tabiat yang buruk dan sengaja ingin berbuat maksiat. Al Qadli ‘Iyadl rahimahullah berkata:

“Mereka dikhususkan dengan ancaman, karena mereka berpegang kepada maksiat padahal tidak ada perkara yang mendorongnya, dan pendorongnya amat lemah. Ini menunjukkan bahkan perbuatan mereka itu karena ‘ienad (menentang) dan meremehkan hak Allah dan tujuannya hanya untuk berbuat maksiat bukan karena ada sesuatu yang lain.
Orang yang telah tua renta telah lemah syahwatnya untuk menjimai yang halal terlebih yang haram, ia telah sempurna akal dan pengetahuannya karena telah banyak makan garam… Seorang raja tidak perlu takut kepada siapapun, karena dusta biasanya dilakukan agar terhindar dari keburukan orang yang ia takuti. Dan orang fakir tidak punya harta yang merupakan sebab kesombongan dan keangkuhan, lantas mengapa ia sombong dan menganggap remeh orang lain? (Ad Diibaaj syarah shahih Muslim 1/122).
7. Orang yang bersumpah palsu di waktu ashar untuk mengambil harta muslim dengan tanpa hak.
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti keharaman hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
8. Orang yang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, namun mencegahnya dari orang yang membutuhkannya.
“Jauhilah Syuhh (kikir yang sangat), sesungguhnya syuhh membinasakan orang-orang sebelum kalian. Syuhh menyuruh mereka untuk bakhil, menyuruh untuk untuk memutuskan tali silaturahim, dan menyuruh untuk berbuat kejahatan, merekapun melakukannya.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani).
9. Orang yang membai’at pemimpin karena dunia.

“Akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku, dan akan ada pemimpin yang hatinya bagaikan hati setan pada tubuh manusia.” Aku berkata, “Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun tubuhmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat.” (HR Muslim).
[1] Lihat shahih Jami’ Ash Shaghier no 98.
[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 1441.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
  • MIMPI SI ANAK BAJAU
  • Aku basah oleh hujan
  • Suamiku..
  • Bayangan Kecilku
  • ....yang Tak Terjamah

Categories

  • Abstract 12
  • Cerita Rakyat 13
  • Cerpen 5
  • Hatiku Tertinggal di Madinah 10
  • Puisi 30
  • Suamiku 2
  • Tips 8
  • Travelling 17

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

My Posts

  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari  Bahasa Banjar Judul Buku          :LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA ...
  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari Bahasa Banjar Judul Buku             : LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARA...
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
    Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada ha...
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
                             Judul Cerita “ Hikayat ...
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
    CERITA RAKYAT KABUPATEN KOTABARU Standar HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK Cerita Rakyat Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan ...

BigBudi

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates