Big Budi

#bussiness #jandatraveller #theraphist

  • Home
  • Thrifted
  • Social
  • Contact Us

Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari Bahasa Banjar


Judul Buku          :LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA

Karya                     : Ayahanda Syamsiar Seman

Terjemahan          : Tri Budiyarni

Cetakan Kedua Tahun 2005
Serie Volklore


KANCIL DAN MONYET



Walaupun tubuhnya kecil namun ia sangat gesit, kakinya keras, cepat sekali kalau ia berlari sebentar-sebentar ia melompat yang sangat ia senangi saat melompati sarang semut, setelah ia kenyang memakan buah kujajing, hari masih pagi kancil yang satu itu duduk jongkok diatas sarang semut perutnya sudah kenyang makan buah kujajing yang tumbuh dipinggir sungai. Saat pagi hari banyak binatang lain yang melewati di situ untuk mencari makanan. Tidak lama setelah kancil duduk diatas sarang semut itu lewatlah seekor capung yang besar.

Capung itu matanya besar bulat seperti biji jagung mengkilat terkena sinar matahari sayapnya lebar dan buntutnya panjang berbelang hitam.

Ternyata kancil itu melihat capung yang melewati di dekat sarang semut dia pun menyapanya.

“Uuu capung, kamu mau kemana cepat-cepat terbang?”, capung yang dipanggil itu menoleh kepada kancil yang menyapa dirinya.

“Mau ke padang kumpai di pinggiran itu disitu banyak lalat untuk makananku”, sahut  capung.

“Kesini dulu aku ada kabar“, sambung kancil setelah itu capung itu singgah ke sarang semut tempat kancil yang duduk jongkok dan kancil memperhatikan sekali si capung.

“Kamu punya kabar apa?”, tanya capung

Kancil itu sangat senang bicara yang berkoar-koar seperti orang pintar orang hebat dan berani.

“Kamu tahu aku kemarin mengalahkan lima ekor buaya. Dia ku tipu badannya ku langkahi ku hitung untuk menyebrang melewati sungai setelah itu monyet bamban ku tipu juga dia kusuruh melilitkan ular sawa kebadannya kukatakan ular itu adalah ikat pinggang untuk seorang raja”.

“Kamu tidak boleh menipu orang seperti itu, kamu selalu senang melihat orang yang marah seperti itu”, kata capung

“Aku terpaksa saja seperti itu buaya itu mau memakan kaki ku monyet itu menarik punggung belakang ku”.

“Kamu sih yang sombong tapi kamu tidak bakalan bisa mengalahkanku”, Kata capung

“Kata siapa aku tidak bisa mengalahkanmu?”

“Ayo kita adu tidak tidur selama semalaman”, kata capung.

“Benarkah?” Kata kancil

“Benar kamu pasti akan kalah nanti”, kata capung

“Belum tentu perkara kecil tidak tidur itu”

Siapa yang kalah harus mencarikan makanan kata capung membuat sarat.

“Setuju, kalo aku kalah pasti ku carikan kamu tiga ekor lalat, tapi kalo kamu kalah kamu harus mencarikan ku tujuh biji buah kujajing”, sahut kancil.

“Kenapa tidak sama banyaknya?” Tanya capung

Menangkap lalat itu susah, kalo memetik buah kujajing hanya menyentuh pohonnya saja sudah banyak jatuh .

“Oke atur saja”. Jawab si capung

Mereka sudah sepakat untuk beradu tidak tidur selama semalaman, siapa yang tidur akan kalah dan harus membayar.

Malam harinya kancil duduk di atas batang pohon jinah didekat situ capung bertengker di atas ranting pohon rambai dibawah situ ada sungai kecil.

“Nah.. Kita bermula beradu tidak tidur satu malam ini”, kata capung.

“Iya “, sahut kancil.

Mereka berdua diam tidak tidur, siapa yang tertidur pasti akan jatuh nantinya. Kancil itu tubuhnya besar duduk di batang pohon jingah. Capung yang badannya ringan saja walau dia jatuh dia pasti saja bisa terbang, matanya besar itu sangat nyarak tidak ketahuan dia tertidur atau tidak.

Ada kira-kira beberapa jam kancil sudah mulai mengantuk matanya sayu ingin tertidur  dan akhirnya si kancil pun tertidur, setelah tertidur tubuhnya terjatuh dan bunyinya mendebum ke sungai dan tubuhnya pun basah.

“Ha,ha,ha, kenapa jadi jatuh?” Kata si capung menegur sambil tertawa terbahak bahak.

“Cah aku ingin mencuci wajahku saja, mata ku pedih”, jawab si kancil mengalihkan perhatian padahal dia tertidur.

Setelah berdua itu diam kembali sunyi tidak ada yang berbicara, saat tengah malam kancil sangat mengantuk dan akhirnya diam tertidur kembali, tubuhnya melemah dan terjatuh mendebum kembali ke sungai, kancil itu pun tubuhnya basah kunyup.

“Ha,ha,ha! Kenapa terjatuh lagi?” Kata capung menengur sambil tertawa.

“Cah aku kebelet pipis saja”, sahut si kancil padahal dia jatuh karena tertidur badanya melemah. Setelah itu mereka sunyi kembali. Namun saat tengah malam kancil itu tidak tahan lagi ngantuknya ia tertidur dan mendebum lagi ke sungai badannya pun basah kembali.

“Ha,ha,ha, kenapa terjatuh lagi?”, tanya capung sambil tertawa terbahak-bahak

“Cah, aku ingin mandi saja badanku sangat gerah”, jawab kancil mengelabuhi.

“Dasar kancil. Mana ada orang mandi tengah malam seperti ini, airnya dingin, badanmu gerah. Bilang saja kamu sudah tiga kali mendebum”, kata capung

“Baiklah! Aku mengaku kalah. Kalau aku bersikeras nanti dibilang bohong”, kata kancil mengalah yang sebenarnya memang sudah kalah berkali-kali.

Badan kancil itu gemetaran setelah jatuh ke sungai. Setelah hari sudah siang kancil terpaksa mencarikan 3 ekor lalat untuk memberi makan capung.


Lomba Lari dengan Ulat Kaki Seribu

Saat kemarin si kancil mondar-mandir berjalan di pingir perumahan, rumah itu berada ditengah sawah yang padinya sedang tumbung besar-besar, batangnya kuat daunnya menguning, buahnya sudah keluar, padi itu sudah bisa dipanen.

Saat si kancil mengamati padi yang besar-besar itu, ada Ulat Kaki Seribu merayap-rayap di dekat akar batang padi namanya Haliling, kancil yang melihat Ulat Kaki Seribu kecil itu lalu menegur.

“Hai, Ling! Apa yang kamu lakukan?” Ulat Kaki Seribu kecil itu perlahan melihat kancil dan ia pun menjawab :

“Aku menungu teman disni”.

“Menunggu untuk apa dan mau kemana?” Tanya si kancil.

“Ingin pergi pijat ke rumah orang yang di sebelah sana!” Kata Ulat Kaki Seribu.

“Apa yang mau dipijat?” Tanya lagi si kancil.

“Memijat kaki agar nantinya bisa sehat saat berjalan atau lari kencang.” Jawab Ulat Kaki Seribu.

Si kancil sangat heran mendengar jawaban Ulat Kaki Seribu, dalam hatinya Ulat Kaki Seribu tidak punya kaki bagaimana lagi mau berjalan cepat apalagi kalau lari sepertinya tidak pernah mendengar Ulat Kaki Seribu itu berjalannya saja sangat pelan dalam hati kancil berpikir.

“Siapa yang jadi tukang urutnya Ling?”, tanya kancil.

“Bingkarungan,” jawab Ulat Kaki Seribu.

Si kancil itu bertambah heran lagi, ia berpikir dalam hati sejak kapan bingkarungan itu bisa memijat namun dia diam saja.

“Kalau sudah pijat nanti bagaimana kalo kita lomba lari?” Tanya kancil

“Itulah yang aku cari agar kami tidak dikatakan loyo lagi kami bisa saja berjalan cepat setelah di pijat nanti lari pun nanti tak terkejar lagi.”

Si kancil pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar kata – kata Ulat Kaki Seribu. Mereka pun berpisah. Keesokan harinya kancil dan Ulat Kaki Seribu itu bertemu lagi di tempat yang sama.

“Bagaimana Ling janji kita lomba lari?” Kata si kancil setelah mereka bertemu.

“Jadi! Kita lomba lari dimulai dari pohon tarap hingga pohon kalang kala di sana”, kata Ulat Kaki Seribu sambil menunjuk ke pohon tarap di dekat ia berdiri, dengan pohon kalang kala yang panjangnya kira-kira 15 depa.

“Siapa yang kalah harus membayar”, kata kancil.

“Bagaimana cara membayarnya?”, kata Ulat Kaki Seribu.

“Jika kamu yang kalah, kamu harus mengambilkan buah kujajing sebanyak tujuh biji,”

“Setuju saja tapi kalau kamu yang kalah kamu harus menebas rerumputan di pinggir rumahku selebar 1 depa dan ambilkan buah sebanyak luas pohon tarap itu”, jawab Ulat Kaki Seribu.

“Aku setuju!” kata si kancil.

Setelah itu mereka sepakat untuk memenuhi janji mereka. Mereka pun berpisah dulu sebentar. Si kancil ingin mengambil biji pala dan kunyit. Biji pala dan kunyit itu ditumbuknya hingga lembut dan digosokkannya ke kaki, agar kakinya gesit saat berlari.

Ulat Kaki Seribu juga berlari pulang ke rumah memanggil teman-temannya lima ekor. Tubuh teman-temannya itu dicoret belang dengan kapur putih. Temannya berlima itu berbagi wilayah di setiap jarak tiga depa.

Ulat Kaki Seribu memanggil temannya yang si tupai yang berada di pohon kelapa. Tupai itu diperintahkannya menjadi tukang hitung saat lomba lari mereka dengan si kancil. Saat lomba akan dimulai, tupai itu sudah ada duduk di atas reranting pohon tarap. Ia sudah siap menjadi tukang hitung.

“Sudah siap?”, teriak tupai.

“Sudah!”, sahut Ulat Kaki Seribu dengan berteriak juga..

“Kamu bagaimana Cil?” Tanya tupai lagi.

“Sudah juga!”, sahut si kancil.

“Dengarkan hitunganku ya.. satu… dua… tigaaaa… !” teriak tupai dengan sangat semangatnya berteriak.

Si kancil berlari sangat kencang. Dilihatnya saat di kilometer tiga ada Ulat Kaki Seribu yang bercoret kapur sudah ada duluan di banding si kancil. Ia pun berlari lagi dengan sangat cepat ternyata ada lagi si Ulat Kaki Seribu yang lebih cepat.

Sampai ke pohon kalangkala, ternyata si Ulat Kaki Seribu sudah ada lagi duluan. Si kancil terengah-engah kelelahan, nafasnya mun pendek hingga sakit kepalanya. Setelah itu si kancil terduduk, ia tidak bisa bernafas.

“Nah, siapa yang menang?”, kata si tupai.

“Siapa lagi kalau bukan aku!” Jawab Ulat Kaki Seribu.

Si kancil pun menyerah, ia tak bisa mengelak lagi. Terpaksa si kancil mengaku kalah kepada Ulat Kaki Seribu yang kecil itu. Terpaksa lagi si kancil memenuhi janjinya, menebas rumput-rumput yang ada si sekitar rumahnya.

“Untuk apa sih kamu menebas rumput-rumput yang ada di pinggir rumahmu itu?, kata si kancil bertanya kepada si Ulat Kaki Seribu.

“Untuk tempat menjemur biji buah kalangkala, ha,ha,ha,!” kata si Ulat Kaki Seribu sambil tertawa kemenangan.

Si kancil pun terdiam, ia sudah dua kali kalah. Setelah ia dikalahkan oleh si capung, saat ini Ulat Kaki Seribu yang kecil itu mengalahkannya lagi.


Berhutang Kepada Kura-kura Beracun

Baru saja hujan lebat menjadikan sungai meluap dimana-mana hingga ke pematang sawah. Untungnya hanya sebentar saja banjirnya. Hari mulai memanas, matahari pun bersinar.

Di pinggir sungai itu ada seekor kura-kura yang sedang mencuci wajahnya setelah itu ia berjemur menghangatkan tubuhnya. Kura-kura itu banyak mempunyai uang, baru selesai dari berjualan telur.

Ternyata ketahuan oleh si kancil bahwa si kura-kura mempunyai uang yang banyak dari penjualan telur. Telur kura-kura itu enak rasanya, makanya enak untuk menjualnya.

Saat kura-kura menjemur badannya di tengah panasnya sinar matahari, si kancil datang mendekat dan ia pun menyapa :

“Uuu, kura-kura! Kamu sekarang sangat kaya ya, banyak mendapatkan uang setelah berjualan telur”.

“Iya benar, darimana kamu tahu cil?”, kata kura-kura.

“Aku tahu, si biawak yang mengatakannya padaku, ia membeli telur dua belas biji”, sambung si kancil.

“Oh iya benar, memangnya kenapa cil?”, Tanya si kura-kura.

“Itu, aku perlu uang! Apa kamu bisa menolong aku, pinjamkan aku uang?”, kata si kancil.

“Kamu perlu uang untuk apa?”, Tanya si kura-kura lagi.

“Sekarang ini lagi bulan tua, jadi ada yang mau aku beli kur! Maka dari itu aku perlu uang”.

“Baiklah, kamu perlu berapa?”.

“Tidak banyak, hanya dua ringgit saja”, jawab si kancil.

Si kura-kura kasihan juga melihat si kancil yang sangat memelas kepadanya. Ia pun pulang ke rumah sebentar. Setelah itu ia datang membawakan uang dua ringgit untuk mengutangi si kancil.

“Ini uangnya, cil! Dua ringgit. Kapan kamu akan membayarnya?”, Tanya si kura-kura setelah menyerahkan uangnya.

“Nanti saat bulan dua”, sahut si kancil.

“Jadi kalau seperti itu sebulan kamu hutang. Saat ini bulan Muharram, satu bulan lagi menjadi bulan Sapar, bulan dua.”

“Iya benar, kalau tak ada aral yang melintang”. Kata si kancil.

Setelah uang dua ringgit itu diambil oleh si kancil, ia pun pulang ke rumah. Setelah itu si kancil tak terlihat lagi, si kura-kura tidak pernah lagi bertemu dengan si kancil.

Ditunggu-tunggu sampai sudah waktunya satu bulan. Saat ia berhutang bulan Muharram, sampai sudah hari ini bulan Sapar.

“Bulan Sapar itu bulan dua. Jadi si kancil harus membayar hutangnnya kepadaku”, gumam si kura-kura.

Si kancil sudah lama tak terlihat, dengan terpaksa kura-kura mencari si kancli hingga ke rumahnya. Saat ia mencari di rumahnya si kancil ternyata si kancil sedang naik ke gunung.

“Si kancil membuat aku bingung”, kata si kura-kura.

“Saat mau berhutang manis sekali dia berbicara. Saat ia harus bayar orangnya hilang tidak terlihat sama sekali”. Gumam si kura-kura lagi.

Namun tidak lama setelah itu, si kura-kura pun menemukan si kancil. Saat si kancil sedang beristirahat di bawah pohon kujajing. Si kura-kura pun muncul dari belakang perlahan mendekati si kancil. Sampai di belakangnya kancil, baaauuu, di pukulnya di belakang. Si kancil pun terkejut tak terkira.

“Nah, kenapa kamu tidak muncul selama satu bulan?”, Tanya si kura-kura, lama si kancil baru menjawab.

“Anu.. Kur.. aku sangat sibuk. Aku menemani tanteku mengatam padi di hutan sebelah sana”, kata si kancil.

“Hingga sudah dua bulan, kamu harus membayar hutang sebanyak dua ringgit itu”, kata si kura-kura.

“Belum bulan dua”, sahut si kancil. Yang sebenarnya ia si kancil ingin ingkar, tidak ingin membayar hutang.

“Saat ini bulan Sapar, bulan dua”, kata di kura-kura.

“Bulannya satu biji saja”, kata si kancil lagi.

“Memang benar bulan yang di langit itu satu biji. Namun hari ini sudah bulan sapar, bulan dua”, kata si kura-kura bersikeras.

Si kancil yang ingkar itu tetap tidak mau membayar hutangnnya. Ia tidak mau membayar hutang itu karena bulannya tidak dua biji. Kura-kura yang menghutangkan uangnya pun jadi ikut bertambah bingung memikirkannya, di mana ada bulan dua biji.

Tiga hari setelah itu timbul di langit bulan empat belas. Cahaya bulan itu sangat terang di atas awan, setelah itu kura-kura mendapatkan ide. Ia cepat-cepat pulang ke rumah membawa tempat/ baskom  yang ia isi dengan air, dan ia pun membawanya ke rumah kancil. Ia pun sampai ke rumah kancil. Saat sampai pun si kura-kura berteriak memanggil si kancil.

“Uuuu kancil.. cepat ke sini!”.

Si kancil pun keluar dari rumahnya, ia memperhatikan si kura-kura yang membawa baskom berisikan air. Ia sangat heran, untuk apa si kura-kura membawa baskom yang berisikan air itu.

Saat si kancil melihat ke dalam baskomnya ia pun melihat bulan sebiji, dan ia pun sangat terkejut.

“Naaaa.. Kamu lihatkan? Dalam baskom itu ada bulan satu biji, jadi bulannya ada dua dengan yang di langit”, kata si kura-kura. Si kancil pun keheranan, dalam hatinya benar juga kalau bulannya sudah ada dua biji, di dalam baskom dan yang di atas langit. Si kancil itu pun tak bisa mengelak lagi.

“Naah.. Bulan dua, kamu harus membayar hutangmu dua ringgit”. Kata kura-kura. Setelah itu si kura-kura berkata :

“Uang dua ringgit itu adalah hasil jerih payahku selama ini, jadi kamu harus mengembalikannya”.

Setelah mendengar ucapan kura-kura si kancil pun masuk ke rumahnya mengambil uang dua ringgit yang diselipkannya di bawah tikar, uang dua ringgit itu ia serahkan kepada kura-kura.

Ternyata si kancil yang mengaku pintar itu tak dapat lagi memungkiri. Ia kalah lagi dengan si kura-kura. Kura-kura itu ternyata pintar untuk menagih hutang.

Si kancil pun menjadi kalah sebanyak tiga kali, dengan monyet, capung, Ulat Kaki Seribu, dan kura-kura padahal tubuh semua hewan yang ia coba untuk ditipu lebih kecil darinya.



Nilai Cerita :

Tidak baik kalau jadi orang yang suka berkoar-koar, mengatakan dirinya hebat, mengatakan berani dan pintar. Apalagi kalau sering menipu orang lain. Jika ada yang hebat maka akan ada yang lebih hebat. Jika ada orang yang berani dan pintar maka masih ada yang lebih berani dan pintar. Bila ia menipu orang, maka suatu saat ia juga akan ditipu juga.


by : Tri Budiyarni



Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari Bahasa Banjar



Judul Buku             : LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA

Karya                        : Syamsiar Seman

Terjemahan : Tri Budiyarni

Cetakan Kedua Tahun 2005
Serie Volklore



LAMBUNG MANGKURAT

 DAN

 DAYANG DIPARAJA

Deskripsi Kegagahannya Lambung Mangkurat

Setelah Pangeran Suryanata secara gaib meninggalkan dunia yang pana, maka anaknya Surya Ganggawangsa diangkat jadi raja di Nagara Dipa. Upacara kerajaan yang mengangkat raja yang baru itu dipimpin oleh Lambung Mangkurat yang tetap memegang jabatan sebagai mangkubumi. Raja Surya Ganggawangsa didudukkan di istana, memakai mahkota yang berasal dari langit.

Upacara mengangkat raja yang baru itu diadakan pesta selama empat puluh hari empat puluh malam untuk meramaikan kerajaan beserta rakyatnya. Gamelan yang bernama Si Rarasati dibunyikan, gong yang bernama Si Rabut Paradah dipukul terus menerus. Tarian radap dan baksa dipertunjukkan. Tidak ketinggalan tari Jambangan Kaca yang jadi tontonan orang banyak.

Tidak terlupa, raja memberi hadiah kepada para pembantu, pesuruh kerajaan, dan bahkan para penari-penari yang belum menikah dinikahkan.

Setiap hari sabtu, Raja Surya Ganggawangsa ada di Situ Luhur, menerima orang-orang yang ingin menghadap kepada raja, walaupun ia hanya rakyat biasa.

Setelah sudah beberapa tahun Surya Ganggawangsa jadi raja di Nagara Dipa, rasanya belum lengkap, namun raja itu tidak mempunyai permaisuri. Hal ini sudah terpikirkan oleh Lambung Mangkurat, hulubalang Arya Magatsari dan Tumanggung Tatahjiwa. Maka yang tujuh orang pejabat negara itu berunding untuk mendapatkan calon permaisurinya raja.

Arya Magatsari dan Tumanggung Tatahjiwa diperintahkannya Singabana, yaitu pengawal keamanan., untuk mencari-cari ke sudut-sudut perkampungan untuk mencari gadis perawan yang cantik untuk dijodohkan dengan Raja Surya Ganggawangsa.

Sudah berbulan-bulan lamanya anak buahnya Singabana, yaitu Singantaka dan Singapati mencari ke setiap kampung belum juga dapat, kabarnya pun belum ada terdengar.

Tidak lama setelah itu ada kabar yang terdengar, di hulu mudik sungai kampung Tangga Hulin. Menurut kabar, Arya Malingkan yang menjadi tokoh tertua di kampung Tangga Hulin ada mempunyai anak perempuan. Kabar itu sampai ke telinga Lambung Mangkurat. Setelah itu dengan cepat Lambung Mangkurat memerintahkan hulubalang Arya Magatsari dan Tumanggung Tatahjiwa agar cepat mendatangi ke Tangga Hulin.

Hulubalang Tumanggung Tatahjiwa dan Arya Magatsari memerintahkan lagi Singabana, yaitu Singantaka dan Singapati dan pengawal yang lain. Singabana adalah penjaga keamanan kerajaan yang bisa mengerjakan segala macam urusan.

Maka berangkatlah pasukan itu membawa perahu ke sungai Tangga Hulin yang mempunyai tujuh orang pengawal keamanan. Setelah sampai ke Tangga Hulin, sengaja para pengawal itu datang diam-diam saja agar tidak diketahui oleh orang kampung. Maksudnya agar dia nyaman untuk bertanya-tanya di pinggiran kampung dahulu, apa benar ada gadis perawan anak Arya Malingkan itu.

Saat itu kebetulan ada seorang perempuan yang sedang mencuci di pinggir sungai. Lewatlah perahu Singabana dan singgah disitu.

Perempuan yang sedang mencuci itu sangat terkejut melihat perahu pengawal kerajaan yang singgah kepadanya. Ia tidak biasa melihat para pengawal kerajaan, dan perahu yang dipakai tidak sama dengan perahu seperti orang kampung lainnya. Saat perempuan itu masih bingung Singabana pun bertanya :

“Kamu tahu siapa yang bernama Arya Malingkan?” Setelah lama perempuan itu menjawab.

“Arya Malingkan itu seorang tokoh di kampung Tangga Hulin. Dia orang kaya, sangat dihormati oleh semua orang di kampung ini”.

“Benarkah Arya Malingkan mempunyai anak perempuan yang masih gadis?”, Tanya Singabana lagi.

“Ada, namanya Diang Diparaja, rupanya sangat cantik”, sahut perempuan itu.

“Di mana rumahnya?”, Singabana bertanya terus.

“Itu, di seberang. Rumah yang besar itu”, kata perempuan itu sambil menunjukkan jarinya ke rumah seberang.

Singkat saja percakapan mereka. Setelah itu Singabana memerintahkan tukang kayuh perahunya memutar arah pulang. Perempuan yang sedang mencuci itu masih terlihat sangat bingung, setelah ditinggalkan perahu para pasukan kerajaan itu, para prajurit sudah mendapatkan kabar untuk menghadap kepada Lambung Mangkurat.

Benar saja, setelah sampai ke kerajaan, Singabana dan pengawalnya menghadap Lambung Mangkurat. Saat itu ada dua orang hulubalang Tumanggung Tatahjiwa dan Arya Magatsari.

“Bapak Lambung Mangkurat, kabar yang mengatakan Arya Malingkan itu benar mempunyai anak yang masih perawan”, kata Singabana.

“Apa kalian semua sudah melihat orangnya?”, kata Lambung Mangkurat menanyakan kepada pengawal kerajaan itu.

“Kami tidak melihat. Kami datang sengaja diam-diam saja, agar tidak diketahui oleh orang banyak, agar tidak heboh.

Tapi kami sudah tahu rumahnya. Arya Malingkan orangnya kaya, rumahnya besar, anak perempuannya bernama Dayang Diparaja”, sambung Singabana.

“Kalau seperti itu kita putuskan aja, menjemput anak Arya Malingkan itu untuk dijadikan permaisuri raja kita”, kata Lambung Mangkurat berpikir sebentar.

Lambung Mangkurat sudah bersiap-siap menjemput Dayang Diparaja, ingin mengirim empat puluh perempuan utusan kerajaan Nagara Dipa ke Tangga Hulin. Sebelumnya itu Lambung Mangkurat menghadap terlebih dahulu kepada raja, mengatakan, membawa kabar mengenai Dayang Diparaja, anak perempuan Arya Malingkan di Tangga Hulin, dikatakan juga oleh lambung mangkurat dan raja, Dayang Dipraja itu gadis perawan yang cantik rupanya.

Setelah mendengar kabar Lambung Mangkurat itu, raja Surya Ganggawangsa tidak banyak bicara, dia hanya melamun, itu artinya ingin berkumpul dengan mangkubuminya.

Melihat perilaku raja itu, tenang hatinya, artinya rencana lambung mangkurat sudah cocok dengan kehendak raja.

Tidak berapa lama setelah itu, lalu Lambung Mangkurat mengutus Singabana, Singantaka dan Singapati untuk datang, sekaligus menjemput Dayang Diparaja ke rumah Arya Malingkan di Tangga Hulin. Para utusan itu diiringi oleh empat puluh wanita yang berpakaian keluarga kerajaan Nagara Dipa.

Di rumah Arya Malingkan, utusan Lambung Mangkurat itu, di setujui oleh Singantaka dan Singapati, menyampaikan maksudnya kepada Arya Malingkan yang ingin menjemput Dayang Diparaja untuk jadi permaisuri raja Surya Ganggawangsa. Namun para pasukan terkejut setelah mendengar jawaban Arya Malingkan.

“Aku tidak ingin anakku Dayang Diparaja nanti akan dijadikan dayang-dayang yang hanya untuk menyenangkan hati raja saja, terlihat muka Arya Malingkan seperti tidak rela.

“Bapak Arya Malingkan! Kami semua datang ketempat Bapak, benar – benar meminta anak bapak itu di jadikan permaisuri raja kami, raja Surya Ganggawangsa”, kata Singantaka menjelaskan. Singapati menambahkan lagi untuk meyakinkan pembicaraan Singantaka.

Setelah mendengar itu Singabana dan dua pengawalnya jadi putus asa,iya tidak berhasil untuk meyakinkan hati Arya Malingkan.

Sambil membawa perasaan yang tidak enak maka para utusan Lambung Mangkurat itu kembali ke kerajaan.

Singantaka dan Singapati menghadap Lambung Mangkurat, mengabarkan bahwa ia tidak berhasil membawa Dayang Diparaja ke kerajaan untuk dijadikan permaisuri raja.

“Jadi Arya Malingkan tidak mau kalau anaknya dijadikan permaisuri raja?”, Tanya Lambung Mangkurat suaranya keras wajahnya memerah marah setelah mendengar kabar yang dibawa oleh Singantaka dan Singapati.

“Iya! Arya Malingkan tidak mau kami sudah berbicara untuk meyakinkan”, sahut anak buah pengawal keamanan itu.

“Kalau seperti itu aku sendiri yang akan datang ke Tangga Hulin itu Arya Malingkan akan berurusan denganku!”, Lambung Mangkurat wajahnya merah matanya melotot marah.


Lambung Mangkurat pergi ke Tangga Hulin

Lambung Mangkurat marah sekali dengan Arya Tarenggana. Karna ia sudah menghadap raja Surya Ganggawangsa, raja Nagara Dipa itu sudah suka dengan Dayang Diparaja jadi Lambung Mangkurat berbalik merasa sangat malu kalau Arya Malingkan tidak mau anaknya jadi permaisuri raja.

Lambung Mangkurat memerintahkan pasukan Singabana menyiapkan perahu yang diberi tanda-tanda  kerajaan Nagara Dipa dilengkapi para pengawal keamanan Singantaka, Singapati dan pengawal lainnya setelah itu Lambung Mangkurat menuju sungai ke arah Tangga Hulin.

Saat siang hari Lambung Mangkurat pergi ke Tangga Hulin, padahal saat malamnya raja Surya Ganggawangsa bermimpi saat tidur. Dalam mimpi itu Raja Surya Ganggawangsa ditemui oleh ayahnya Raja Suryanata. Raja Suryanata berucap kepada anaknya :

“Anakku! Kamu nanti harus menikah dengan anak perempua yang dilahirkan oleh Dayang Diparaja, kamu akan memperoleh keturunan yang baik-baik.” Setelah berucap itu ayahnya Raja Suryanata hilang secara gaib dan tidak terlihat lagi.

Raja Surya Ganggawangsa terduduk mengingatkan mimpinya yang bertemu Raja Suryanata itu.

“Aku harus memenuhi kemauan bapak itu!” Gumam Surya Ganggawangsa.

Alkisah, Lambung Mangkurat yang pergi menaiki perahu dengan para pengawal ke Tangga Hulin. Orang-orang kampung berkumpul, mereka memperhatikan perahu Lambung Mangkurat yang diberi tanda- tanda kerajaan Nagara Dipa. Orang-orang kampung yang belum pernah melihat Mangkubumi Lambung Mangkurat ingin sekali melihatnya. Orang kampung itu biasanya  hanya mendengar kabar saja bahwa Lambung Mangkurat itu orangnya gagah berani dan tidak bisa dilukai dengan senjata tajam.

Kabar  kedatangan lambung mangkurat dan para pengawal keamanan yang membawa perahu kerajaan Nagara Dipa itu sampai juga terdengar Arya Malingkan. Setelah mendengar itu Arya Malingkan merasa ketakutan kalo saja kedatangan lambung Mangkurat bisa membunuhnya.

Setelah berpikir, Arya Malingkan cepat keluar rumah memakai pakaian yang bagus, maksudnya untuk menyambut menghormati kedatangan Lambung Mangkurat.

Benar saja setelah perahu kerajaan Nagara Dipa yang dibawa Lambung Mangkurat dan pengawal Singabana itu bersampingan di halaman rumah Arya Malingkan.

Setelah itu Lambung Mangkurat dibawa ke rumah mereka duduk dan di atur oleh keluarga Arya Malingkan. Belum lagi Lambung Mangkurat mengatakan maksudnya, Arya Malingkan sudah menyampaikan keputusannya:

“Bapak Lambung Mangkurat! Kalau Raja Surya Ganggawangsa benar-benar ingin anakku Dayang Diparaja yang bakalan di jadikan permaisuri, kami sekeluarga setuju saja.”

Setelah mendengar perkataan Arya Malingkan itu, hati Lambung Mangkurat yang tadinya keras menjadi lemah dan menghormati yang punya rumah itu dan ia pun berkata :

“Nah.. itu yang aku inginkan saat datang kesini.”

Setelah sudah akur maka saat itu juga Dayang Diparaja dibawa oleh Lambung Mangkurat. Naik perahu Kerajaan Nagara Dipa kembali kekerajaan.

Lambung Mangkurat  menghadap Raja Surya Ganggawangsa untuk mengatkan bahwa ia berhasil menjeput Dayang Diparaja yang bakalan dijadikan permaisuri.

Namun ia sangat terkejut setelah Raja Surya Ganggawangsa berkata :

“Lambung Mangkurat ! Malam tadi aku bermimpi saat tidur ditemui oleh ayahku Raja Suryanata. Kata beliau aku harus menikah dengan anak perempuan yang diahirkan oleh Dayang Diparaja.”

Dikatakan Surya Ganggawangsa itu membuat kacau kerajaan Nagara Dipa sebab sangat sulit mencarikan siapa orang yang akan menikah dan yang cocok dengan Dayang Diparaja.

Lambung Mangkurat pun berunding dengan pejabat kerajaan bermusyawarah dengan hulubalang Arya Magatsari, Tumanggung Tatahjiwa, termasuk berbicara kepada jaksa-jaksa Patih Baras, Patih Pasih, Patih Luhur, Patih Sagara.

Setelah selesai dimusyawarahkan semuanya, mereka memutuskan tidak ada yang pantas menikah dengan Dayang Diparaja selain Lambung Mangkurat.

Keputusan itu disampaikan oleh Surya Ganggawangsa oleh karna raja Surya Ganggawangsa sudah setuju, maka Lambung Mangkurat menyetujui saja keputusan itu dia siap saja menerima, yang baik untuk kerajaan Nagara Dipa.

“Untuk kepentingan Nagara Dipa, dan kepentingan keturunan raja, maka aku siap menerima”, Kata Lambung Mangkurat.

Saat itu juga diperintahkanlah Singantaka pergi ke Tangga Hulin berdua dengan Singapati, menyampaikan kabar keputusan raja kepada Arya Malingkan. Ini sudah menjadi keputusan raja maka Arya Malingkan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia menerima saja jika anakanya Dayang Diparaja menikah dengan Lambung Mangkurat, mangkubumi itu.


Lambung mangkurat menikah dengan Dayang Diparaja


Foto Red-Putri Junjung Buih, hanya gambaran untuk kecantikan Dayang Diparaja

Upacara kerajaan dan pesta diadakan di kerajaan Nagara Dipa, menikahkan mangkubumi kerajaan Lambung Mangkurat dengan Dayang Diparaja anak perempuan Arya Malingkan. Saat pernikahan itu diadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk menghibur keluarga kerajaan dan rakyatnya.

Alkisah tidak lama setelah Lambung Mangkurat itu menikah dengan Dayang Diparaja anak perempuan Arya Malingkan itu mengandung.

Sudah sembilan bulan sembilan hari mengandung, Dayang Diparaja tidak ada juga tanda-tanda melahirkan setelah ditunggu hingga tiga belas bulan masih tetap tidak ada tanda-tanda melahirkan dan akhirnya setelah lima belas bulan baru terlihat tanda-tanda Dayang Diparaja ingin melahirkan, perutnya sakit luar biasa.

Mereka menunggu selama tujuh malam Dayang Diparaja sakit perut, tidak juga keluar anaknya. Sudah ditolong oleh dukun dan tabib,namun anaknya tidak keluar-keluar juga, Lambung Mangkurat bingung, sudah putus asa. Namun tidak lama setelah itu, ia terkejut mendengar ada suara yang keluar dari dalam perut Dayang Diparaja.

“Uuu..Bapak Lambung Mangkurat saya adalah anak Bapak yang tidak bisa keluar seperti jalan biasa saya harus keluar jalan sebelah kiri perut mama. Bapak belah saja perut mama sebelah kiri.”

Mendengar suara itu Lambung Mangkurat bertambah bingung saat itu ada tiga hal yang menjadi pikiran nya dia ingin menyelanatkan anaknya untuk keluar itu artinya istrinya akan meninggal dunia setelah itu ia ingin mengabulkan kemauan raja Nagara Dipa yang anaknya nanti menjadi permaisuri .

Setelah berpikir itu akhirnya Lambung Mangkurat mengambil keputusan yang berat menyelamtkan anaknya sekaligus mengabulkan kemauan raja. Biar hatinya berat terpaksa ia membelah perut sebelah kiri Dayang Diparaja istrinya.

Anak keluar dari dalam perut adalah perempuan yang sangat cantik, yang sudah bersih bahkan sudah berhias, berpupur dan bercelak mata, setelah itu diberi nama Putri Kuripan.

Kabar yang Dayang Diparaja meninggal dunia,dengan perut dibelah oleh Lambung Mangkurat sampai di dengar oleh Arya Malingkan di Tangga Hulin.

Arya Malingkan berdua suami istri itu sakit hati sekali mendengar kejadian itu.mereka pun mengutuskan untuk bunuh diri bersama daripada sakit hati mengenang Dayang Diparaja lebih baik mati juga mengikuti anaknya seperti pikirian Arya Malingkan suami istri.

Arya Malingkan mengambil pinang muda dan memakannya, istri malingkan pun mengambil satu buah pinang tua dan membuang sepahnya, dia memerintahkan pembantunya untuk menanam serabut itu di tanah setelah tujuh hari setelah sepah itu di tanam tumbuhlah menjadi pohon pirawas.

Menurut kisah serabut punya Arya Malingkan menjadi pohon jariangau. Jariangau dan pirawas itu jadi obat. Itu asal usulnya dari tangga hulin bekas serabut Arya Malingkan dan istrinya

Alkisah anak perempuan Lambung Mangkurat yang sangat cantik diberi nama Putri Kuripan itu jadi susah untuk menyusui karena tidak ada ibunya, setelah tiga hari anak itu tidak meminum apa-apa ternyata Putri Kuripan itu berucap sendiri minta diminumi susu kerbau putih.

Lambung Mangkurat cepat memerintahkan para penngawal keamanan Singapata dan Singapati mencarikan susu kerbau putih. Susu kerbau inilah yang diminum Purti Kuipan sampai besar.

Alkisah saat dahulu orang-orang keturunan Putri Kuripan sampai sekarang tidak ingin meminum susu kerbau putih dan juga pamali untuk memakan daging kerbau putih itu.

Tahun demi tahun lamanya Putri Kuripan sudah besar yang dipelihara oleh Lambung Mangkurat sampai berumur lima belas tahun menurut pikiran Lambung Mangkurat dan para hulubalang Aryamagatsari dan Tumanggung Tatahjiwa sudah saatnya dinikahkan dengan raja Surya Ganggawangsa yang tetap ingin mngabulkan nasihat ayah raja Suryanata sudah siap menikahkan Putri Kuripan.

Tidak lama setelah itu upacara yang besar dilaksanakan di Nagara Dipa. Maklum saja yang dinikahkan adalah raja dan yang menjadi pemaisuri adalah anak perempuan mangkubumi kerajaan.

Saat itu raja Surya Ganggawangsa dan Putri Kuripan dimandikan ke pondok yang berlangitkan kain kuning air untuk mandi diberi kembang empat puluh macam yang berbau harum.

Semua kembang itu dicampur mulai mawar, melati, marak, malur, kananga, kaca piring, cempaka putih, cempaka kuning, nagasari, kembang culan, kembang tuak-tuak, kembang usir-usir, kembang palilak, kembang pandan, tanjung, kembang tanding, kembang sarunai, kembang pacar, kembang panggil-panggil putih, kembang panggil-panggil merah, kembang dilam, kembang ganasuli, kembang pudaksatanggal, kembang jariangau, kembang tambura, kembang sarapanagan, kembang jarum-jarum, kembang gambir, kembang kasumaningkrat, kembang kangkung, kembang talipuk, kembang bilarantapah, kembang bamban, kembang urang-aring, kembang gambar gayam, kembang supan-supan, kembang kasisap, kembang bunting-bunting, kembang dadap, dan kembang patah kamudi.

Setelah selesai mandi lalu keduanya diarak kekerajaan Nagara Dipa. Upacara pernikahan itu diadakan pesta empat puluh hari empat puluh malam gamelan si Rarasati dibuyikan terus-menerus gong si Rabut Paradah dibunyikan terus ditambah tontonan untuk rakyat kesenain wayang, tarian baksa dan tarian yang bernama jambangan kaca.

Para keluarga kerajaan Nagara Dipa sangat puas dengan pesta itu termasuk para rakyatnya .

Raja Surya Ganggawangsa dan Putri Kuripan hidup rukun memelihara karajaan Nagara Dipa Lambung Mangkurat yang jadi mangkubumi mengatur benua tetap setia dengan raja tidak lama setelah itu ada lebih satu tahun Putri Kuripan raja Surya Ganggawngsa itu melahirkan putri perempuan yang diberi nama Putrid Kalarangsari.



Nilai cerita
Setiap orang yang bekerja di mana saja harus rajin bekerja bertanggung jawab dan menurut dengan orang yang menjadi pimpinannya anak harus juga menurut dengan bapaknya atau ibunya agar hidupnya berkah.



by : Tri Budiyarni




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
  • MIMPI SI ANAK BAJAU
  • Aku basah oleh hujan
  • Suamiku..
  • Bayangan Kecilku
  • ....yang Tak Terjamah

Categories

  • Abstract 12
  • Cerita Rakyat 13
  • Cerpen 5
  • Hatiku Tertinggal di Madinah 10
  • Puisi 30
  • Suamiku 2
  • Tips 8
  • Travelling 17

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

My Posts

  • Dongeng Kancil dan Monyet (Terjemahan dari Bahasa Banjar)
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari  Bahasa Banjar Judul Buku          :LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA ...
  • LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARAJA
    Cerita-Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terjemahan Dari Bahasa Banjar Judul Buku             : LAMBUNG MANGKURAT DAN DAYANG DIPARA...
  • Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat
    Inilah 9 Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada ha...
  • Hikayat Saijaan dan Ikan Todak
                             Judul Cerita “ Hikayat ...
  • HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK
    CERITA RAKYAT KABUPATEN KOTABARU Standar HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK Cerita Rakyat Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan ...

BigBudi

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates